Pencarian

Windows 11 Dikritik karena Sulitkan Ganti Browser Bawaan, 72 Persen Pengguna Alami Hambatan

Kamis, 13 Agustus 2026 • 01:30:01 WIB
Windows 11 Dikritik karena Sulitkan Ganti Browser Bawaan, 72 Persen Pengguna Alami Hambatan
persen pengguna Windows 11 mengalami hambatan saat mengganti browser bawaan, menurut survei Browser Choice Alliance.

NUSA TENGGARA BARAT — Hasil survei terbaru dari Browser Choice Alliance, sebuah koalisi yang beranggotakan kompetitor langsung Microsoft Edge seperti Chrome, Vivaldi, dan Opera, menunjukkan praktik kurang ramah pengguna pada sistem operasi Windows 11. Meski memiliki konflik kepentingan karena para anggotanya diuntungkan jika pengguna bebas memilih browser, data yang dikumpulkan tetap relevan untuk menggambarkan pengalaman nyata di lapangan.

Angka yang Menyoroti Masalah Kebebasan Memilih di Windows 11

Data survei mengungkap kesenjangan antara keinginan pengguna dan realita sistem. Sebanyak 86 persen responden yakin mereka seharusnya memegang kendali penuh atas browser default, dan 80 persen menginginkan opsi "satu klik" untuk mengganti pengaturan tersebut.

Fakta di lapangan justru berbeda. Hanya 26 persen partisipan yang saat ini menggunakan Edge sebagai browser utama, padahal hanya 19 persen yang benar-benar memilihnya secara sukarela. Artinya, ada sekitar 7 persen pengguna yang memakai Edge bukan karena keinginan sendiri.

Lebih mengkhawatirkan lagi, 29 persen responden mengaku pembaruan sistem Windows turut berkontribusi pada perubahan atau pengaturan ulang preferensi browser mereka tanpa izin.

Pengguna Senior Paling Terdampak Kerumitan Pengaturan

Riset ini menemukan bahwa demografi usia lanjut menjadi pihak yang paling kesulitan. Sebanyak 44 persen responden berusia 65 tahun ke atas menilai proses mengganti browser default di Windows 11 terlalu rumit. Angka ini kontras jauh dengan kelompok usia 18-44 tahun yang hanya mencatat 15 persen.

Tingkat kepercayaan diri juga rendah di kalangan senior. Sekitar 61 persen partisipan berusia 65 tahun ke atas mengaku tidak yakin mampu mengatur browser default mereka sendiri. Kondisi ini menunjukkan bahwa hambatan teknis yang dibuat sistem tidak hanya mengganggu, tetapi juga menciptakan kesenjangan digital bagi pengguna yang kurang melek teknologi.

Praktik Bisnis Microsoft yang Dipertanyakan

Strategi Microsoft dalam mempertahankan pengguna Edge terbilang agresif. Perusahaan sempat membuat pengaturan default browser di Windows 11 hanya memengaruhi jenis file tertentu, bukan keseluruhan sistem. Ketika Uni Eropa memaksa perubahan demi kebebasan memilih, Microsoft hanya menerapkan opsi tersebut secara eksklusif di kawasan Eropa.

Keberadaan aplikasi pihak ketiga seperti MSEdgeRedirect dan EdgeDeflector yang dulu berfungsi memaksa tautan terbuka di browser default kini tidak lagi berfungsi optimal. Microsoft beralasan bahwa membuka widget atau komponen sistem tertentu di Edge menjamin pengalaman pengguna yang lebih baik, namun klaim ini banyak diragukan validitasnya oleh pengamat dan pengguna.

Dampak Lanjutan bagi Pengguna Ublock Origin

Kebijakan Microsoft yang mengikuti jejak Google dengan menghentikan dukungan ekstensi MV2 membawa konsekuensi besar. Ekstensi pemblokir iklan populer, uBlock Origin, tidak lagi berfungsi di Edge.

Bagi pengguna yang sangat bergantung pada ekstensi tersebut, perpindahan ke browser lain menjadi pilihan logis. Namun ironisnya, survei ini justru membuktikan bahwa proses perpindahan tersebut di Windows 11 masih jauh dari kata mudah.

Hasil temuan ini menegaskan bahwa Microsoft perlu mengevaluasi ulang desain sistem yang dinilai menghambat hak pengguna untuk menentukan aplikasi bawaan mereka sendiri, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan akan privasi dan kontrol personal atas perangkat.

Follow lensasumbawa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: windowscentral.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks