NUSA TENGGARA BARAT — Netflix kembali merilis film thriller berjudul The Last House yang telah dipromosikan secara besar-besaran, termasuk dengan papan iklan interaktif. Namun, hasil akhirnya justru menjadi salah satu kekecewaan terbesar layanan streaming itu tahun ini. Alih-alih menyajikan ketegangan yang dijanjikan, film ini tersandera oleh naskah yang kacau dan alur yang berlarut-larut.
Janji Trailer vs Realita Film
Trailer film ini menjanjikan kisah menegangkan tentang sebuah keluarga yang terperangkap di dalam rumah mereka. Namun, trailer tersebut sudah membocorkan twist utama bahwa mereka terperangkap selama bertahun-tahun, bukan hanya beberapa hari. Penonton yang sudah menonton trailer pun kehilangan elemen kejutan yang seharusnya menjadi inti cerita.
Alih-alih mengeksplorasi premis yang menarik, film ini justru berjalan lambat dan kehilangan arah setelah 15 menit pertama. Alur cerita yang tidak fokus membuat penonton dihadapkan pada kebingungan identitas genre, tidak cukup menegangkan sebagai thriller dan tidak cukup dalam sebagai drama.
Aktor Berbakat yang Terbuang Sia-sia
Satu-satunya nilai positif dari film ini adalah kualitas akting para pemainnya. Greta Lee dan Wagner Moura tampil meyakinkan sebagai orang tua yang mencoba menjaga ketenangan dan mengatur rumah tangga saat badai misterius mengurung mereka di dalam rumah. Kimia antar karakter terasa natural dan dapat dipercaya.
Sayangnya, kekuatan akting tersebut tidak mampu menyelamatkan naskah yang membingungkan. Karakter-karakter ini terjebak dalam cerita yang tidak jelas arahnya, membuat penampilan apik mereka terasa sia-sia di tengah plot yang tidak koheren.
Kekejaman Tanpa Tujuan dan Monster yang Kurang Eksplorasi
Film ini juga menyertakan adegan kekejaman terhadap hewan yang terasa tidak perlu dan mengganggu. Bagi penonton yang sensitif terhadap hal ini, film jelas bukan pilihan yang tepat.
Meskipun desain makhluk atau ancaman dalam film ini dibuat dengan baik, porsi kemunculannya sangat minim. Penonton tidak pernah diberi tahu apa sebenarnya ancaman tersebut atau mengapa ia bisa menjebak keluarga itu selama bertahun-tahun. Akhir film yang menggantung tanpa jawaban hanya menambah daftar panjang kekecewaan yang ada.
Kesimpulan: Apakah The Last House Layak Ditonton?
Dengan segala kekurangannya, The Last House adalah contoh nyata di mana ide dan trailer yang bagus tidak menjamin hasil akhir yang memuaskan. Film ini gagal memberikan ketegangan yang dijanjikan dan berakhir dengan membingungkan. Ada banyak pilihan film thriller lain yang lebih layak untuk ditonton di Netflix maupun di bioskop, jadi Anda bisa melewati film ini dan mencari tontonan yang benar-benar menghibur.