DOMPU — Beban penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, dan kanker terus meningkat di tengah masyarakat. Kondisi ini diperparah oleh masalah gizi pada kelompok rentan serta masih lemahnya kesadaran warga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dini.
Persoalan itu mengemuka dalam refleksi Hari Kemerdekaan yang ditulis Mantri Ariel (Yus Muhardin), seorang tenaga kesehatan di Dompu. Menurutnya, akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas belum sepenuhnya merata, sementara tenaga kesehatan di tingkat layanan dasar masih menghadapi berbagai tantangan dalam memberikan pelayanan optimal.
Perubahan Gaya Hidup dan Informasi Kesehatan yang Menyesatkan
Perubahan pola makan, kurang aktivitas fisik, serta paparan informasi kesehatan yang tidak selalu benar turut memengaruhi derajat kesehatan warga. Padahal, kesehatan merupakan modal utama pembangunan bangsa—rakyat yang sehat lebih mampu belajar, bekerja, dan berkarya.
Sebaliknya, penyakit yang dapat dicegah apabila tidak ditangani sejak dini justru meningkatkan beban keluarga, menurunkan produktivitas, dan menambah beban pembiayaan kesehatan.
Mengapa Upaya Pencegahan Harus Jadi Prioritas?
Pembangunan kesehatan tidak boleh lagi berfokus pada mengobati orang sakit. Edukasi kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui fasilitas kesehatan, sekolah, tempat kerja, media massa, dan media digital.
Puskesmas dan jejaring pelayanan dasar harus menjadi garda terdepan dalam pencegahan, skrining, deteksi dini, dan pengendalian penyakit. Masyarakat juga perlu didorong untuk mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal sehingga faktor risiko dapat dikendalikan sebelum berkembang menjadi penyakit serius.
Pemerataan Layanan dan Penguatan Gizi Ibu-Anak
Pemerintah daerah perlu terus memperhatikan ketersediaan tenaga kesehatan, fasilitas, obat, alat kesehatan, dan akses pelayanan di wilayah terpencil yang masih memiliki keterbatasan. Perbaikan gizi dan kesehatan sejak masa kehamilan, bayi, anak, hingga remaja merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia.
Literasi kesehatan masyarakat juga harus ditingkatkan agar warga mampu membedakan informasi kesehatan yang benar dari yang menyesatkan. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci—kesehatan bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, melainkan juga pemerintah daerah, pendidikan, dunia usaha, organisasi masyarakat, media, keluarga, dan masyarakat.
Peran Warga: Kemerdekaan Dimulai dari Pola Hidup Sehat
Kemerdekaan dalam bidang kesehatan dimulai dari diri sendiri. Masyarakat dapat berkontribusi dengan menerapkan pola hidup sehat, menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, aktif bergerak, tidak merokok, serta melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan.
Jika dahulu bangsa Indonesia berjuang melawan penjajahan, maka hari ini perjuangan dilanjutkan melawan penyakit, kemiskinan, ketimpangan, dan rendahnya literasi kesehatan. Kemerdekaan akan semakin bermakna apabila setiap rakyat memiliki kesempatan yang adil untuk hidup sehat.