NUSA TENGGARA BARAT — Selama ini, pengrajin emas lokal di Palu memegang peran kunci dalam memasok produk ke Pegadaian. Namun, keterlibatan mereka masih bersifat sporadis, belum terikat dalam satu ekosistem yang terstruktur. Kini, Pegadaian ingin mengubahnya dengan menjadikan mereka mitra resmi dalam rantai pasok bullion.
Direktur Utama Pegadaian, Damar Latri Setiawan, menyebut kolaborasi ini sebagai langkah strategis. "Kami tidak hanya ingin menjadi penampung emas, tapi juga menciptakan nilai tambah bagi pengrajin lokal," ujarnya dalam acara penandatanganan kerja sama di Palu, pekan lalu.
Skema Baru, Dampak Langsung ke Perajin
Dalam skema baru ini, Pegadaian akan membeli emas hasil produksi pengrajin dengan harga yang lebih kompetitif. Sebagai imbalan, pengrajin wajib memenuhi standar kualitas tertentu yang ditetapkan perusahaan. Dengan begitu, produk emas lokal bisa langsung masuk ke layanan gadai, tabungan emas, hingga produk investasi Pegadaian.
Bagi pengrajin seperti Hasanuddin, pemilik bengkel emas di Palu, kerja sama ini membawa angin segar. "Selama ini kami menjual ke tengkulak dengan harga murah. Sekarang ada kepastian pasar dan harga yang lebih baik," katanya.
Pegadaian menargetkan bisa menyerap hingga 5 ton emas per tahun dari pengrajin lokal di seluruh Indonesia. Angka ini setara dengan 20 persen dari total produksi emas rakyat nasional.
Bullion Services: Bukan Sekadar Gadai Emas
Ekosistem bullion services yang dibangun Pegadaian mencakup lebih dari sekadar gadai emas. Di dalamnya ada layanan tabungan emas, deposito emas, hingga perdagangan emas batangan. Dengan melibatkan pengrajin lokal, Pegadaian ingin memastikan pasokan emas fisik tetap terjaga.
Langkah ini juga sejalan dengan dorongan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar BUMN memperkuat sektor riil. "Kami ingin bisnis emas tidak hanya menguntungkan korporasi, tapi juga menghidupi pengrajin kecil," tambah Damar.
Target ke Depan
Ke depan, Pegadaian berencana memperluas kemitraan serupa ke daerah sentra emas lain seperti Kalimantan Barat dan Sumatera Utara. Perusahaan juga akan memberikan pelatihan standarisasi kualitas emas kepada pengrajin binaan.
Dengan model ini, Pegadaian optimistis ekosistem bullion nasional bisa lebih kuat dan mandiri. Alih-alih bergantung pada impor emas batangan, perusahaan justru bisa memaksimalkan produksi dalam negeri.
Bagi masyarakat, dampaknya langsung terasa: harga emas di layanan Pegadaian bisa lebih stabil karena pasokan lokal yang terjamin. Sementara bagi pengrajin, kepastian pasar dan harga menjadi jaring pengaman di tengah fluktuasi harga emas global.