Bayangkan pagi hari di Lombok. Bau kopi bubuk segar bercampur aroma rempah-rempah, suara tawar-menawar dalam bahasa Sasak yang khas, dan tumpukan kain tenun berwarna-warni. Itulah gambaran sehari-hari di pasar tradisional Nusa Tenggara Barat. Bagi kami yang tinggal di sini, pasar bukan cuma tempat transaksi. Ia ruang sosial, pusat informasi harga cabai, dan saksi bisu perputaran uang dari tangan petani ke pedagang.
Bagi perantau atau wisatawan, menjelajahi pasar tradisional adalah cara tercepat untuk memahami karakter sebuah daerah. Di NTB, beberapa pasar sudah beroperasi puluhan tahun, bahkan sejak zaman kolonial. Mereka bertahan di tengah gempuran minimarket modern. Berikut lima di antaranya yang masih relevan hingga kini.
1. Pasar Mandalika, Mataram: Pusat Grosir Tertua di Lombok Barat
Terletak di pusat Kota Mataram, tepatnya di Kelurahan Mandalika, pasar ini sudah berdenyut sejak era 1970-an. Bagi warga Lombok, Pasar Mandalika adalah tujuan utama untuk belanja kebutuhan pokok dalam jumlah besar. Dari beras, gula, minyak goreng, hingga aneka bumbu dapur, semuanya tersedia dengan harga grosir.
Yang membuatnya legendaris adalah sistem bloknya. Ada blok khusus pedagang sayur, blok ikan asin yang aromanya khas, dan blok tekstil yang menjual kain songket khas Lombok. Tips untuk pengunjung: datanglah sebelum pukul 06.00 WITA jika ingin mendapatkan sayuran paling segar langsung dari petani kaki gunung. Jangan lupa cicipi jajanan pasar seperti jaje bongkol atau sate bulayak di area parkir sisi timur.
2. Pasar Ampenan, Mataram: Napas Sejarah Pelabuhan Tua
Tak jauh dari Mandalika, ada Pasar Ampenan yang usianya lebih tua. Berdiri di kawasan pelabuhan bersejarah, pasar ini menjadi saksi kejayaan lalu lintas perdagangan antar pulau di masa Hindia Belanda. Bangunannya masih mempertahankan arsitektur kolonial dengan ventilasi tinggi dan lantai ubin teraso.
Keunikan Pasar Ampenan terletak pada barang dagangannya. Selain kebutuhan pokok, di sini banyak ditemukan barang-barang antik, perlengkapan nelayan, dan kerajinan anyaman tradisional. Para pedagang di sini terkenal dengan kejujurannya. Sistem timbangan masih manual, dan banyak yang sudah berjualan turun-temurun sejak kakek-nenek mereka. Lokasinya persis di Jalan Yos Sudarso, berdekatan dengan Masjid Islamic Center dan Klenteng Ban Hing Kiong.
3. Pasar Karang Sukun, Mataram: Surga Buah dan Sayur Organik
Berlokasi di Kecamatan Mataram, Pasar Karang Sukun punya reputasi berbeda. Pasar ini menjadi andalan ibu-ibu rumah tangga di Mataram dan sekitarnya untuk mendapatkan buah dan sayur dengan kualitas terbaik. Banyak petani dari lereng Gunung Rinjani yang langsung menjual hasil panennya ke sini.
Yang menarik, di pasar ini Anda bisa menemukan aneka buah lokal yang jarang ada di supermarket. Mulai dari mangga golek, pisang kapas, hingga jeruk siam yang manis. Harganya bervariasi tergantung musim panen. Kalau Anda mencari oleh-oleh segar untuk dibawa pulang, Karang Sukun adalah tempatnya. Saran saya, bawa tas belanja sendiri karena kantong kresek di sini sering kehabisan di akhir pekan.
4. Pasar Sembalun, Lombok Timur: Pasar Dingin di Kaki Rinjani
Berbeda dengan pasar di kota, Pasar Sembalun punya suasana yang unik. Terletak di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, pasar ini berada di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut. Suhu udaranya dingin, dan kabut sering turun di pagi hari.
Pasar ini legendaris karena menjadi titik kumpul para petani sayur dataran tinggi. Bawang putih, kol, kentang, dan wortel yang ditanam di tanah vulkanik Rinjani punya rasa yang lebih manis. Selain sayur, pasar ini juga menjual aneka oleh-oleh khas Sembalun seperti madu hutan dan kopi robusta khas kaki gunung. Bagi pendaki Rinjani, pasar ini adalah tempat terakhir untuk membeli perbekalan sebelum mendaki. Jam operasionalnya biasanya dimulai subuh dan mulai sepi setelah pukul 10.00 WITA.
5. Pasar Bima, Kota Bima: Denyut Ekonomi di Ujung Timur NTB
Bergeser ke Pulau Sumbawa, Pasar Bima di Kota Bima adalah pusat perdagangan tertua di wilayah timur NTB. Pasar ini menjadi titik transit barang dari Sulawesi, Flores, dan Sumbawa Barat. Suasananya lebih riuh dibanding pasar di Lombok, dengan percampuran bahasa Mbojo, Bima, dan bahasa Indonesia.
Komoditas utamanya adalah hasil laut kering seperti ikan asin, teri nasi, dan cumi-cumi. Selain itu, pasar ini terkenal dengan kain tenun Bima yang motifnya khas dan berbeda dengan tenun Lombok. Bagi pencinta kuliner, di sini ada jajanan khas seperti kue onde-onde Bima dan sambal colo-colo yang pedasnya bikin nagih. Lokasinya strategis di pusat kota, tak jauh dari Taman Sultan Salahuddin.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah pasar-pasar ini buka setiap hari?
Ya, kelima pasar di atas beroperasi setiap hari. Namun, untuk Pasar Sembalun, volume pedagang paling ramai di hari Sabtu dan Minggu karena banyak pendaki yang datang.
Bolehkah membayar pakai e-wallet atau QRIS di pasar tradisional NTB?
Beberapa pedagang di Pasar Mandalika dan Pasar Ampenan sudah mulai menerima pembayaran digital, terutama pedagang muda. Tapi mayoritas masih menggunakan uang tunai. Siapkan uang kecil.
Apa oleh-oleh paling khas yang bisa dibeli di pasar ini?
Di Lombok, kain tenun songket dan mutiara Lombok bisa ditemukan di Pasar Mandalika dan Ampenan. Di Sumbawa, kain tenun Bima dan madu hutan Sembalun adalah pilihan utama.
Bagaimana cara menawar yang sopan di pasar tradisional NTB?
Orang Sasak dan Mbojo terkenal ramah tapi tegas. Mulailah dengan menawar setengah dari harga yang disebutkan, lalu naikkan secara bertahap. Tersenyumlah dan jangan memaksa. Kalau deal, langsung bayar.
Pasar tradisional di Nusa Tenggara Barat bukan sekadar tempat belanja. Mereka adalah museum hidup yang menyimpan cerita tentang pertanian, perikanan, dan kerajinan lokal. Di tengah gempuran e-commerce, pasar-pasar ini tetap bertahan karena menawarkan interaksi manusia yang autentik. Kalau Anda mampir ke Lombok atau Sumbawa, luangkan waktu setidaknya satu jam untuk merasakan hiruk-pikuknya. Bawa uang tunai, buka mata lebar-lebar, dan biarkan penjual menawarkan dagangannya dengan senyum khas NTB.