Pencarian

Hutan Sambelia Lombok Timur Rusak Parah, 200 Hektare Lahan Kritis Akibat Alih Fungsi Jadi Ladang Jagung

Jumat, 24 Juli 2026 • 10:31:31 WIB
Hutan Sambelia Lombok Timur Rusak Parah, 200 Hektare Lahan Kritis Akibat Alih Fungsi Jadi Ladang Jagung
Lahan kritis seluas 200 hektare di kawasan hutan Sambelia, Lombok Timur, akibat alih fungsi menjadi ladang jagung.

SELONG — Hamparan ladang jagung yang menghijau di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, menyimpan cerita kelam tentang hutan yang perlahan lenyap. Kawasan yang dulu dipenuhi pohon sengon, sonokling, dan jati kini berubah menjadi lahan kritis, sementara sumber-sumber mata air mulai mengering.

Patroli Perempuan Ungkap Fakta di Lima Titik

Hasil patroli pemantauan yang dilakukan kelompok perempuan dari Desa Sambelia dan Sugian pada Mei-Juni 2026 menemukan kondisi memprihatinkan di lima titik kawasan Notan. "Pohon tegakan sudah tidak ada, tutupannya sudah tidak ada. Pohon-pohon besar sudah hilang," ujar Ary, anggota tim patroli.

Luas HKm Sambelia yang dikelola di Sugian dan Belanting mencapai 420 hektare. Dari hasil pemetaan, kerusakan parah terjadi di lebih dari 200 hektare. Human Resource (HR) Gema Alam, Diar Ruly Juniari, bahkan menegaskan kerusakan total kemungkinan sudah melampaui angka tersebut.

Jagung Vs Pohon: Dilema Ekonomi dan Lingkungan

Alih fungsi lahan hutan menjadi ladang jagung menjadi penyebab utama. Lahan jagung di kawasan hutan lindung dan hutan produksi Sambelia serta Sugian kini mencapai hampir 203 hektare. Masyarakat beralih menanam jagung karena kepastian ekonomi yang lebih jelas dibanding menanam pohon.

"Dulu banyak sengon, tetapi tidak ada kepastian dari pemerintah—sengon ini mau diapakan, mau dijual ke mana? Tidak ada kepastian untuk memberikan akses kepada masyarakat," kenang Diar. Proses perizinan menebang kayu yang berbelit-belit dan lama membuat masyarakat enggan menanam kayu lagi.

Meskipun jagung memberikan keuntungan ekonomi—bisa mencapai ratusan juta rupiah sekali panen—dampaknya terhadap lingkungan sangat merusak. Ekosistem air terganggu, sumber-sumber mata air yang dulu mengalir sepanjang tahun kini hanya muncul di musim hujan. Di musim kemarau seperti sekarang, warga kesulitan mendapatkan air bersih.

Madu Kini Harus Dicari Jauh ke Dalam Hutan

Kerusakan hutan juga berdampak pada mata pencaharian tradisional warga, terutama mencari madu. "Sejak hutan rusak, sekarang mereka jauh ke dalam untuk cari madu. Yang dulunya masih bisa di sekitar belakang rumah, sekarang harus sampai menginap tiga hari di dalam kawasan hutan," tutur Diar.

Perempuan Jadi Garda Terdepan Pemantauan Hutan

Di tengah keprihatinan, Women Research Institute (WRI) bersama Gema Alam memberdayakan kelompok perempuan di Desa Sugian dan Sambelia melalui program Wise Watch. Dengan memanfaatkan aplikasi Forest Watcher dari Global Forest Watch, para perempuan mencatat setiap temuan di lapangan lalu menyusun advokasi.

"Kenapa perempuan? Karena selama ini perempuan akar rumput tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan kebijakan pengelolaan hutan, padahal mereka sehari-hari bergelut dengan kebun dan ladang," tegas Program Manajer WRI, Benita Nasfami.

Edukasi dan Pendampingan Jadi Kunci

Kelompok perempuan ini mengusulkan solusi konkret: edukasi masyarakat pengelola hutan, reboisasi dengan bibit berkualitas, dan pendampingan intensif dari pemerintah. "Jangan hanya kasih bibit, ditanam, lalu ditinggal. Itu sering terjadi sejak 2015, makanya tidak ada yang hidup. Harus ada pendampingan, edukasi, bagaimana perawatan dan pemeliharaan," kritik Diar.

Harapan mereka jelas: mengembalikan fungsi hutan agar sumber air tetap ada, sungai-sungai jernih kembali seperti dulu, dan madu Sambelia bisa lagi ditemukan di sekitar rumah.

Bagikan
Sumber: suarantb.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks