BEIJING — Wakil Ketua Umum Asosiasi Agama Islam Tiongkok Jin Rubin menerima kunjungan rombongan Muhibah Organisasi Masyarakat (Ormas) Keagamaan Nusa Tenggara Barat di kantornya, Jumat (18/9/2026). Dalam pertemuan itu ia menepis anggapan adanya perlakuan diskriminatif terhadap umat Islam di Tiongkok.
"Kami bisa beribadah dengan baik. Jadi, kami di sini baik-baik saja," kata Jin Rubin.
Rombongan Muhibah Ormas Keagamaan NTB dipimpin Ketua MUI NTB Dr TGH Badrun. Turut serta dua pimpinan PW NU NTB, dua pimpinan PW Muhammadiyah, dua pimpinan NW, dua pimpinan NWDI, dan dua pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) NTB.
Siapa Jin Rubin di Struktur Pemerintahan Tiongkok
Jin Rubin bukan hanya pimpinan organisasi keagamaan. Ia tercatat sebagai Anggota Kongres Rakyat Nasional (NPC) ke-14.
Dalam struktur pemerintahan Tiongkok, ada komite khusus di bawah Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC) yang menaungi urusan etnis dan agama. Komite ini melibatkan tokoh masyarakat dan pemimpin agama, termasuk perwakilan umat Islam, untuk memberi masukan kepada pemerintah.
Beberapa pimpinan organisasi keagamaan juga menjabat wakil ketua komite maupun anggota NPC. Asosiasi Agama Islam Tiongkok sendiri disebut sebagai satu-satunya organisasi Islam yang diakui negara.
Imbauan Hubbul Wathan minal Iman
Asosiasi mengajak umat Islam di Tiongkok mematuhi hukum yang berlaku dan mendukung sistem politik yang ada. Jin Rubin menyebut pihaknya terus mendidik umat Muslim lokal memegang prinsip cinta negara sekaligus menjalankan ajaran agama.
"Kami senantiasa mengimbau dan mendidik umat Muslim lokal untuk memegang teguh prinsip mencintai negara sekaligus menjalankan ajaran agama (Hubbul Wathan minal Iman)," jelasnya didampingi sejumlah pengurus organisasi.
Sejarah Islam Masuk Tiongkok Sejak Tahun 651 M
Jin Rubin memaparkan Islam masuk Tiongkok sekitar tahun 651 M pada masa Khalifah ketiga, Utsman bin Affan, melalui utusan yang dikirim ke Tiongkok. Setelah itu pedagang Arab dan Persia datang lewat Jalur Sutra dan Jalur Rempah Maritim, menetap, menikah dengan warga lokal, dan menjadi cikal bakal umat Muslim Tiongkok.
Kini penganut Islam di Tiongkok mencapai sekitar 20 juta jiwa, tersebar di 10 suku minoritas Muslim seperti Hui, Uighur, Kazakh, Tatar, Uzbek, Salar, dan Dongxiang.
"Islam di sini selalu berpegang teguh pada arah lokalisasi dan berintegrasi dengan budaya Tiongkok," tambahnya.
35 Ribu Masjid dan 57 Ribu Imam Tercatat
Asosiasi Agama Islam Tiongkok mencatat sekitar 35 ribu masjid dan lebih dari 57 ribu imam di Tiongkok. Ada pula 10 institut pendidikan tinggi Islam, termasuk di Beijing, Urumqi-Xinjiang, dan Kunming, untuk membina tokoh dan tenaga pengajar keagamaan.
"Masjid-masjid bersejarah dengan usia lebih dari 1.000 tahun masih terpelihara dengan baik, seperti Masjid Niujie di Beijing yang berusia sekitar 1.026 tahun, Masjid Huaisheng di Guangzhou, dan Masjid Agung Xian," terangnya.
Pemerintah Tiongkok disebut memberi dukungan dana signifikan untuk fasilitas keagamaan. Anggaran itu membiayai pemeliharaan masjid bersejarah, pembangunan gedung perkantoran, perpustakaan, institut keagamaan, hingga asrama mahasiswa, dengan nilai mencapai ratusan juta yuan.
Jejak Hubungan Islam Tiongkok dan Indonesia
Jin Rubin menyebut umat Islam Tiongkok dan Indonesia punya akar sejarah panjang, berawal dari Jalur Sutra Maritim kuno. Titik hubungan modern dimulai tahun 1955 saat Konferensi Asia Afrika di Bandung.
Ketika itu Wakil Ketua Asosiasi Agama Islam Tiongkok Imam Da Pusheng hadir sebagai penasihat urusan Islam mendampingi Perdana Menteri Zhou Enlai.
"Peristiwa ini meletakkan dasar bagi pertukaran resmi antar kedua negara," jelasnya.
Hubungan itu berlanjut lewat kerja sama Asosiasi Agama Islam Tiongkok dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah. Delegasi organisasi Islam Indonesia berulang kali berkunjung ke Tiongkok, termasuk mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang tercatat pernah bertandang ke sana.