MATARAM — Dua kecamatan di Kabupaten Bima, yakni Belo dan Bolo, resmi berstatus awas kekeringan meteorologis setelah periode tanpa hujan mencapai 84 hari. Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini menyebut kedua wilayah tersebut menempati posisi paling lama tanpa hujan di provinsi ini.
Status awas merupakan level tertinggi dalam peringatan dini kekeringan BMKG. Penetapan ini mengindikasikan potensi dampak yang meluas, mulai dari gagal panen hingga krisis air bersih bagi warga.
Daftar Wilayah Status Awas di NTB
BMKG tidak hanya menyoroti Kabupaten Bima. Sejumlah kecamatan di kabupaten lain juga masuk kategori awas dengan tingkat kekeringan serupa. Berikut rinciannya:
- Kabupaten Lombok Timur: Kecamatan Labuhan Haji dan Suela
- Kabupaten Sumbawa Barat: Kecamatan Jereweh
- Kabupaten Sumbawa: Kecamatan Labuhan Badas, Moyo Utara, Sumbawa, Unter Iwes, dan Lape
- Kabupaten Dompu: Kecamatan Kilo dan Pajo
- Kota Bima: Kecamatan Raba
Selain wilayah berstatus awas, sejumlah kecamatan lain di Kabupaten Bima juga dilaporkan berada di level siaga, menandakan kekeringan telah meluas di wilayah timur Pulau Sumbawa tersebut.
Faktor El Nino dan Puncak Kemarau
Kondisi kering ini diperparah oleh kombinasi puncak musim kemarau dan fenomena El Nino yang tengah menguat. BMKG mencatat indeks Nino3.4 berada di angka +2,45 derajat Celsius, masuk kategori sangat kuat.
Catatan curah hujan pada dasarian I Agustus 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah NTB berada di kategori rendah, dengan kisaran 0 hingga 10 milimeter per dasarian. Dasarian merupakan periode sepuluh hari dalam satu bulan kalender.
Curah hujan tertinggi pada periode tersebut hanya tercatat di Pos Hujan Kokok Putih, Sembalun, dengan jumlah 47 milimeter per dasarian. Angka ini jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan air permukaan di tengah musim kemarau panjang.
Potensi Hujan Masih Minim
BMKG memperkirakan kondisi kering masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Pada dasarian II Agustus 2026 atau periode 11 hingga 20 Agustus, potensi hujan di seluruh wilayah NTB diperkirakan sangat kecil dengan peluang kurang dari 10 persen.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik yang memengaruhi pola cuaca global. Di Indonesia, fenomena ini meningkatkan peluang kondisi lebih kering di sejumlah wilayah, termasuk NTB.
Kombinasi antara puncak musim kemarau, rendahnya peluang hujan, dan periode tanpa hujan yang panjang membuat risiko kekeringan semakin besar. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau menghemat penggunaan air bersih dan waspada terhadap potensi kebakaran lahan.