NUSA TENGGARA BARAT — Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) itu berhasil diamankan sekitar pukul 19.45 WIB, kurang dari dua jam setelah petugas memasang box trap pada pukul 18.00 WIB. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, mengatakan evakuasi dilakukan bersama Polsek Palupuh untuk memastikan proses berjalan aman.
"Tim Balai KSDA Sumatera Barat saat ini telah melakukan evakuasi terhadap Harimau Sumatera tersebut dengan berkoordinasi bersama Polsek Palupuh untuk memastikan proses evakuasi berlangsung aman dan terkendali. Evakuasi dilakukan dengan mengutamakan keselamatan masyarakat sekaligus meminimalkan risiko terhadap satwa," ujar Ristianto dalam keterangan resmi, Kamis (13/8).
Jarak Serangan ke Sekolah Hanya 50 Meter
Konflik bermula ketika BKSDA Sumbar menerima laporan warga pada Senin, 10 Agustus 2026 pukul 16.30 WIB. Dua ekor kambing milik warga ditemukan mati dengan luka gigitan khas karnivora besar. Satu kambing tewas di dalam kandang, sementara satunya hanya menyisakan dua kaki depan setelah diterkam ke semak-semak.
Hasil verifikasi tim Wildlife Rescue Unit (WRU) mencatat lokasi kejadian berada sekitar 50 meter di belakang SDN 10 Palimbatan, 100 meter dari SMP Negeri 1 Palupuh, dan 150 meter dari Masjid Syukra. Kedekatan dengan fasilitas publik ini yang mendorong petugas bergerak cepat sebelum korban jatuh dari kalangan warga.
Bukan Pertemuan Pertama di Kawasan Palupuh
Kemunculan harimau di wilayah itu berulang sejak akhir Juli. Pada 31 Juli 2026, satwa yang sama dilaporkan memangsa anjing dan kambing milik warga. Frekuensi serangan yang meningkat membuat BKSDA memutuskan memasang perangkap jebak sehari setelah laporan terakhir diterima.
Setelah dievakuasi, harimau tersebut dititipkan di lembaga konservasi untuk menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Hasil pemeriksaan tim medis dan dokter hewan akan menjadi dasar penentuan langkah penanganan konservasi berikutnya, apakah satwa akan direhabilitasi atau dipindahkan ke habitat yang lebih aman.
Mitigasi Konflik Jadi Prioritas Kementerian Kehutanan
Penanganan cepat di Agam merupakan bagian dari kebijakan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang menempatkan mitigasi konflik manusia dan satwa liar sebagai prioritas pengelolaan konservasi. Pendekatan yang dipakai tidak hanya merespons setelah konflik terjadi, tetapi mencakup penguatan deteksi dini, respons lapangan, dan edukasi masyarakat.
Kementerian Kehutanan juga mengaitkan langkah ini dengan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap perlindungan keanekaragaman hayati. Perlindungan Harimau Sumatera dinilai bagian dari menjaga ekosistem sekaligus memastikan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
Warga di sekitar lokasi tetap diminta waspada karena kawasan Palupuh merupakan jalur yang berpotensi dilalui satwa liar. Imbauan yang disampaikan mencakup larangan beraktivitas sendirian pada malam hari serta perintah segera melapor ke BKSDA atau aparat setempat jika kembali melihat kemunculan harimau.