Pencarian

Harga BBM Indonesia dari Era Orde Lama hingga Reformasi, dari Rp0,30 ke Rp1.200

Sabtu, 24 Oktober 2026 • 13:50:02 WIB
Harga BBM Indonesia dari Era Orde Lama hingga Reformasi, dari Rp0,30 ke Rp1.200
Harga Premium tercatat Rp0,30 per liter pada November 1965 dan mencapai Rp1.200 per liter pada Mei 1998.

NUSA TENGGARA BARAT — Harga Premium pernah menyentuh Rp0,30 per liter pada November 1965 dan melonjak ke Rp1.200 per liter pada Mei 1998. Rentang angka itu merekam lebih dari 20 kali penyesuaian BBM era Orde Baru, dari subsidi tebal dekade 1970-an sampai krisis moneter yang memicu protes mahasiswa.

Catatan harga bahan bakar minyak di Indonesia tersimpan rapi dalam sejarah panjang penyesuaian di dispenser SPBU. Setiap angka yang berubah bukan sekadar keputusan ekonomi, melainkan cermin kondisi politik dan stabilitas makro pada masanya. Dari era rupiah masih berdenominasi logam tipis sampai kompleksitas subsidi modern, harga Premium dan Solar bergerak mengikuti tekanan zaman.

November 1965: Premium Rp0,30 per Liter di Era Orde Lama

Pada November 1965, Premium masih dibanderol Rp0,30 per liter dan Solar Rp0,20 per liter. Memasuki Januari 1966, harga sempat melompat ke Rp1,00 sebelum disesuaikan kembali ke kisaran Rp0,50 untuk bensin dan Rp0,40 untuk solar. Angka-angka itu menunjukkan betapa rentannya harga energi saat transisi kekuasaan berlangsung.

Lebih dari 20 Kali Penyesuaian Sepanjang 32 Tahun Orde Baru

Selama 32 tahun kepemimpinan Soeharto, tercatat lebih dari 20 kali penyesuaian harga BBM. Pada dekade 1970-an hingga 1980-an, negara mengendalikan harga secara ketat lewat suntikan subsidi yang tebal. Pada 1980, Premium dijual Rp150 per liter dan Solar Rp52,50 per liter.

Sepuluh tahun berselang, harga naik perlahan menjadi Rp450 untuk Premium dan Rp245 untuk Solar. Kenaikan bertahap ini berlangsung di tengah pertumbuhan ekonomi yang ditopang penerimaan minyak.

Mei 1998: Krisis Moneter Dorong Premium ke Rp1.200

Puncak gejolak terjadi pada Mei 1998, menjelang detik-detik kejatuhan rezim Orde Baru. Hantaman krisis moneter membuat harga Premium melambung ke Rp1.200 per liter. Gelombang protes mahasiswa memaksa pemerintah meredam harga turun ke angka Rp1.000.

Lonjakan tersebut menandai berakhirnya pola subsidi tebal yang sebelumnya menahan harga di tingkat rendah. Sejak titik itu, harga BBM menjadi isu politik yang sensitif bagi setiap pemerintahan berikutnya.

Era Reformasi: Habibie, Gus Dur, hingga Megawati

Memasuki era Reformasi, penyesuaian harga BBM berlanjut di bawah pemerintahan B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri. Pemerintahan berganti, tetapi persoalan subsidi dan harga eceran tetap menjadi beban fiskal yang harus dikelola.

Perjalanan angka di SPBU dari Rp0,30 pada 1965 hingga Rp1.200 pada 1998 memperlihatkan satu pola: keputusan harga BBM selalu beririsan langsung dengan kondisi ekonomi makro dan tekanan politik saat itu.

Follow lensasumbawa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: wwb.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks