MATARAM — Program Desa Berdaya dirancang menghubungkan penanganan kemiskinan dengan pengembangan potensi ekonomi desa. Prof. Riduan Mas'ud menilai strategi tersebut relevan bagi NTB yang punya beragam sumber daya unggulan, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga pariwisata dan ekonomi kreatif.
"Strategi ini menjadi penting bagi NTB yang memiliki beragam sumber daya unggulan, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga pariwisata dan ekonomi kreatif," ujar Riduan dalam keterangannya di Mataram.
Dua Pendekatan: Transformatif dan Tematik
Desa Berdaya dijalankan lewat dua jalur yang saling melengkapi. Pendekatan Transformatif menyasar keluarga miskin ekstrem melalui pendampingan bertahap. Pendekatan Tematik diarahkan mengoptimalkan potensi unggulan desa agar menghasilkan nilai tambah ekonomi.
Pada 2026, Pemprov NTB mengalokasikan Rp128 miliar untuk Desa Berdaya Tematik dengan sasaran 257 desa. Setiap desa direncanakan memperoleh dukungan Rp300 juta.
Sementara Desa Berdaya Transformatif pada tahap awal menyasar 40 desa dengan 6.337 kepala keluarga miskin ekstrem. "Dukungan tersebut menjadi peluang bagi desa untuk mengembangkan usaha sesuai potensi dan kebutuhan masyarakat," kata Riduan.
Pertanian hingga Homestay Jadi Pintu Masuk Usaha Desa
Di sektor pertanian, program dapat diarahkan pada peningkatan produktivitas, pengolahan hasil, dan pemasaran. Desa dengan potensi pariwisata bisa mengembangkan homestay, kuliner, kerajinan, serta jasa wisata yang melibatkan warga setempat.
Manfaat program diharapkan tidak berhenti pada penerima bantuan. Pengembangan usaha yang tepat membuka lapangan kerja dan memutar ekonomi di lingkungan desa.
"Kedua pendekatan tersebut saling melengkapi," tambah Riduan.
Kemiskinan NTB 11,38 Persen, Turun dari Tahun Sebelumnya
Data Badan Pusat Statistik mencatat tingkat kemiskinan NTB pada September 2025 sebesar 11,38 persen atau sekitar 637,18 ribu orang. Angka itu turun dibandingkan September 2024 yang mencapai 11,91 persen.
"Tantangan kemiskinan di NTB memang masih besar," papar Riduan.
Desa Berdaya berpotensi memperkuat pengentasan kemiskinan lewat pemberdayaan yang dekat dengan kondisi riil masyarakat. Bantuan produktif menjadi modal awal keluarga membangun usaha, sementara pendampingan memastikan usaha tumbuh dan bertahan.
Kolaborasi dengan Kampus, Perbankan, dan Dunia Usaha
Penguatan program dapat dilakukan melalui kolaborasi pemerintah desa, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan, dan lembaga keuangan. Kemitraan diperlukan untuk meningkatkan keterampilan warga, memperbaiki kualitas produk, membuka akses pembiayaan, serta mempertemukan usaha desa dengan pasar lebih luas.
Ukuran keberhasilan Desa Berdaya menurut Riduan bukan jumlah desa penerima atau besarnya anggaran tersalurkan. Dampak yang lebih penting adalah meningkatnya pendapatan keluarga, berkembangnya usaha masyarakat, terbukanya lapangan kerja, serta membaiknya kualitas hidup warga.
"Ketika keluarga semakin mandiri dan potensi lokal mampu menghasilkan nilai tambah, desa tidak hanya menjadi sasaran pembangunan, tetapi juga motor penggerak kesejahteraan NTB," demikian Prof. Riduan.