MATARAM — Festival Tosan Aji Sasaka Mataram mempertemukan puluhan komunitas pencinta keris dan benda pusaka dari berbagai daerah. Selain penggemar dari NTB, peserta datang dari sejumlah provinsi lain, termasuk Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Catatan penyelenggara menyebut sekitar 70 komunitas terlibat dalam festival yang berlangsung di Pasar Seni Sayang-Sayang Mataram. Sebaran peserta mencapai 19 kabupaten/kota di Indonesia.
Road Show dari Salatiga untuk Mengenalkan Keris ke Masyarakat
Siswanto, peserta asal Salatiga, Jawa Tengah, menyebut keikutsertaannya dalam festival merupakan bagian dari road show memperkenalkan keris dan tosan aji lainnya kepada masyarakat.
"Bicara keris atau tosan aji bukan sekedar bicara kekuatan gaib tapi juga nilai-nilai filosofis sekaligus keindahan," kata Siswanto.
Menurut dia, seseorang yang ingin memiliki benda tosan aji tidak bisa dilepaskan dari cerita di baliknya. Hal itu, kata Siswanto, menjadi bagian yang melekat dalam tradisi tosan aji.
"Itu hal yang tak bisa dipisahkan. Bicara tosan aji, pasti ada rasa ingin mendapat manfaat dari benda tersebut. Apalagi, jika menginginkan keris yang dibuat oleh seorang Mpu, tentu tak bisa dilepaskan dari persoalan gaibnya," ujarnya.
Filosofi dan Keindahan Keris Jadi Daya Tarik bagi Penggemar Luar Negeri
Peserta asal Lumajang, Jawa Timur, Saiful, membenarkan bahwa bicara tosan aji tak bisa dilepaskan dari urusan gaib. Namun, jika tosan aji selalu dibicarakan hanya soal gaib, orang luar negeri tidak akan tertarik.
"Mereka lebih tertarik pada filosofi dan seni terutama berkaitan dengan keris," kata Saiful.
Karena itu, Saiful menilai edukasi soal filosofi dan keindahan harus dikedepankan dalam festival tosan aji agar masyarakat lebih paham arti di baliknya. Urusan gaib, menurut dia, tetap tidak ditolak.
"Edukasi soal filosofi, keindahan dan lainnya harus dikedepankan dalam festival Tosan Aji agar masyarakat lebih paham arti dibaliknya. Meski, tak juga menolak soal urusan gaib," katanya.
Generasi Muda Diminta Tetap Mengenal Warisan Leluhur
Saiful mengingatkan, meski urusan tosan aji tak bisa dilepaskan dari persoalan gaib, generasi muda harus tetap belajar mengenal warisan budaya leluhur. Pemahaman filosofi dinilai menjadi kunci agar warisan itu tidak ditinggalkan.
"Jika sudah paham filosofinya, generasi muda tentu tidak akan melepaskan warisan leluhur baik berupa keris maupun tosan aji lainnya," ujarnya.