NUSA TENGGARA BARAT — Wahana antariksa Jepang, Martian Moons eXploration (MMX), resmi diperkenalkan ke publik di Tanegashima Space Center pada Kamis pekan lalu. Misi nirawak ini akan menjadi salah satu upaya paling ambisius JAXA dalam eksplorasi luar angkasa, dengan target mendarat di Phobos untuk mengambil sampel material dan membawanya pulang ke Bumi sekitar tahun 2031.
Target Misi dan Kolaborasi Internasional
Setelah diluncurkan, MMX akan menghabiskan waktu sekitar tiga tahun di orbit Mars. Wahana ini dirancang untuk mendarat di permukaan Phobos dan mengumpulkan setidaknya 10 gram material. Selain itu, MMX juga akan mengamati bulan Mars lainnya, Deimos, dari orbit tanpa melakukan pendaratan.
Proyek ini merupakan kolaborasi besar yang melibatkan Pusat Studi Antariksa Nasional Prancis (CNES), Pusat Dirgantara Jerman (DLR), NASA, dan Badan Antariksa Eropa (ESA). Sejumlah universitas dan perusahaan teknologi juga turut ambil bagian, termasuk Mitsubishi Electric yang mengembangkan sistem pendarat.
Tantangan Pendaratan di Gravitasi Rendah
Salah satu tantangan teknis terbesar adalah mengembangkan kaki pendarat. Insinyur Mitsubishi Electric, Akinari Uehara, menyebut gravitasi di Phobos sangat rendah sehingga wahana berisiko terpental atau jatuh saat menyentuh permukaan.
"Kami harus mencegah (wahana) terjatuh, dengan membuat kakinya meredam benturan saat mendarat," kata Uehara kepada AFP, Minggu (16/8).
Rekam jejak JAXA dalam misi pendaratan memang beragam. Wahana SLIM atau Moon Sniper sempat terguling setelah mendarat di Bulan pada 2024, tetapi tetap bertahan dan mengirimkan data. Sebelumnya, Hayabusa-2 sukses memulangkan 5,4 gram batuan dari asteroid pada 2020.
Misi Pengembalian Sampel Mars yang Semakin Ketat
Jepang bukan satu-satunya negara yang berlomba membawa material Mars ke Bumi. NASA sebenarnya sudah mengumpulkan sampel via penjelajah Perseverance, namun misi pengembaliannya secara efektif dibatalkan setelah pemungutan suara Kongres AS pada Januari lalu.
China juga mengumumkan wahana Tianwen-3 yang dijadwalkan meluncur sekitar 2028 dan bisa mengembalikan sampel Mars ke Bumi pada 2031. Jika sesuai jadwal, China berpotensi menyelesaikan misinya lebih awal dari MMX.
Mengungkap Misteri Pembentukan Mars dan Kehidupan
JAXA berharap data dari Phobos bisa menjawab dua teori besar tentang asal-usul bulan Mars. Hipotesis tumbukan raksasa menyebut kedua bulan terbentuk setelah benda langit menabrak Mars. Sementara hipotesis tangkapan menduga keduanya adalah asteroid yang tertangkap gravitasi Mars.
Menentukan teori mana yang benar akan membantu ilmuwan memahami bagaimana lingkungan layak huni bisa muncul di planet kebumian seperti Bumi. JAXA juga menjajaki kemungkinan memakai Phobos sebagai stasiun luar angkasa alami untuk misi berawak ke Mars di masa depan.
Astrofisikawan Prancis yang menggarap penjelajah IDEFIX, Patrick Michel, mengatakan misi ini bisa menerangi mekanisme pengangkutan air dan senyawa organik dari tata surya luar ke planet berbatu. "Jika Phobos dan Deimos memang sisa dari sistem pengantaran awal itu, keduanya mungkin menyimpan petunjuk tentang asal-usul kehidupan itu sendiri," ujarnya.