NUSA TENGGARA BARAT — Ratusan warga tampak antusias mengikuti perlombaan yang digelar di area Masjid Baitut Tholibin, kompleks Kemendikdasmen dan Kemendikbud, Jakarta, pada Senin (17/8). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi ini menghadirkan nuansa nostalgia yang jarang ditemukan di tengah dominasi permainan berbasis gawai.
Berbeda dengan perayaan kemerdekaan pada umumnya yang hanya mengandalkan panjat pinang, tahun ini panitia menyiapkan ragam lomba yang lebih variatif. Tarik tambang, balap karung, gigit koin, bakiak beregu, tangkap belut, makan kerupuk, kelereng sendok, hingga paku botol menjadi primadona bagi peserta dewasa. Sementara itu, anak-anak disuguhi lomba mewarnai dan menggambar.
Salah satu daya tarik utama dalam perayaan tahun ini adalah penggunaan panjat bambu yang menggantikan panjat pinang. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan keputusan ini diambil sebagai bentuk komitmen terhadap kelestarian lingkungan.
"Ada juga yang dari tahun lalu sudah kita lakukan, yaitu panjat bambu sehingga lebih ramah lingkungan," ujar Fadli saat membuka acara. Langkah ini dinilai lebih berkelanjutan karena bambu dapat ditanam kembali dan tidak merusak pohon pinang yang kerap ditebang untuk keperluan acara serupa.
Menurut Fadli, rangkaian permainan yang dihadirkan tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya bangsa. Ia menegaskan bahwa aktivitas-aktivitas ini masuk dalam kategori permainan rakyat dan olahraga tradisional yang dilindungi negara.
"Untuk menyambut HUT kemerdekaan, kita menghadirkan kekayaan dan keberagaman budaya, salah satunya adalah permainan rakyat atau permainan tradisional," kata Fadli.
Kegiatan ini tidak hanya melibatkan pegawai kementerian, tetapi juga terbuka untuk masyarakat umum dari berbagai kelompok usia. Kehadiran budayawan Jajang C. Noer beserta sejumlah seniman dan budayawan Betawi menambah semarak acara sekaligus memperkuat pesan pelestarian budaya lokal.
Fadli berharap masyarakat tidak berhenti pada momentum 17 Agustus saja untuk memainkan permainan tradisional. Ia mengajak seluruh elemen untuk terus mengenalkan warisan budaya ini kepada generasi penerus, mengingat permainan rakyat merupakan bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan yang perlu dijaga keberlangsungannya.
Melalui kegiatan semacam ini, Kementerian Kebudayaan berupaya menciptakan ekosistem di mana permainan tradisional tidak hanya menjadi tontonan, tetapi kembali menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Hal ini sejalan dengan semangat kemerdekaan yang juga berarti merdeka dalam melestarikan identitas budaya bangsa.