LOMBOK TENGAH — Sebanyak 75 rumah adat, delapan berugak, enam sekenam, satu masjid, dua toilet, dan 69 art shop di Kampung Adat Sade rusak akibat kebakaran yang melanda kawasan wisata budaya di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Pemerintah daerah bersama masyarakat adat kini memulai proses pembangunan kembali secara bertahap, ditandai dengan ritual Nyemulaq atau Tanjek Teken pada Kamis (3/9/2026).
Ritual yang digelar bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah itu bukan sekadar seremoni. Masyarakat Sasak Sade meyakini prosesi ini sebagai langkah spiritual untuk memohon restu sebelum tanah dan bangunan kembali didirikan.
Bupati: Pembangunan Dimulai Hari Ini, Warga Didampingi Penuh
Bupati Lombok Tengah H. L. Pathul Bahri, S.IP., M.AP. menegaskan bahwa prosesi Nyemulaq menjadi momentum resmi dimulainya rekonstruksi kawasan adat tersebut.
"Pembangunan rumah di Kampung Adat Sade dimulai hari ini. Pemerintah daerah akan terus mendampingi proses rekonstruksi agar masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti sebelumnya," ujar Pathul di sela prosesi adat, Kamis (3/9/2026).
Ia memastikan proses pembangunan dilakukan secara terbuka dan melibatkan seluruh pihak, agar hasil rekonstruksi benar-benar memberi manfaat luas bagi masyarakat sekitar.
Gubernur NTB Mengingatkan: Jangan Hanya Bangun Fisik, Hidupkan Peradaban
Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, S.IP., M.Si. memberikan catatan khusus dalam proses rekonstruksi ini. Menurutnya, pembangunan Sade jangan hanya fokus pada pemulihan bangunan yang rusak.
"Yang kita bangun bukan hanya bangunan, tetapi kembali membangun peradaban. Karena itu harus tetap menjaga nilai awal Sade," kata Iqbal.
Ia meminta proses pembangunan dilakukan secara matang. Nilai sejarah, adat, dan budaya Sasak yang melekat pada arsitektur serta tata ruang kampung adat ini harus menjadi pedoman utama, bukan sekadar meniru bangunan modern.
Nyemulaq Hasil Kesepakatan Warga, Rekonstruksi Dilakukan Bertahap
Koordinator Rekonstruksi Rumah Adat Sade, Dr. H. Lalu Mohammad Faozal, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa ritual Nyemulaq merupakan hasil musyawarah dan kesepakatan bersama seluruh elemen masyarakat adat. Prosesi ini menjadi penanda bahwa warga siap membangun kembali kampung halaman mereka.
Rekonstruksi akan dilakukan bertahap sesuai perencanaan yang telah disusun. Skala kerusakan yang cukup besar—mencakup area pemukiman, tempat ibadah, hingga kawasan komersial art shop—menuntut prioritas penanganan yang jelas.
Kebakaran yang melanda kawasan ini sempat menghentikan aktivitas pariwisata dan keseharian warga. Dengan dimulainya rekonstruksi, masyarakat Sade berharap denyut ekonomi dan budaya kembali hidup, sekaligus memastikan nilai adat Sasak tetap terjaga sebagai identitas dan daya tarik wisata Lombok Tengah.