LOMBOK TENGAH — Seorang siswi SMKN 1 Kopang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tidak masuk sekolah pada Rabu (13/5/2026) sehari setelah payudaranya diraba oleh teman prianya di dalam kelas. Foto kejadian itu viral di media sosial dan memicu reaksi warganet.
Kepala SMKN 1 Kopang, Lalu Subhanudin, mengaku sudah memanggil sejumlah siswa yang mengetahui peristiwa tersebut. Namun pihak sekolah belum bisa berkomunikasi langsung dengan korban lantaran yang bersangkutan tidak hadir.
"Semuanya sudah tadi (dipanggil), cuma yang perempuan itu belum karena tidak masuk," kata Subhanudin kepada detikBali, Rabu (13/5/2026).
Kronologi: Tangan Tidak Sengaja atau Sengaja?
Menurut Subhanudin, peristiwa itu terjadi saat para siswa sedang beristirahat. Ia menyebut tangan siswa laki-laki itu tidak sengaja menyentuh area sensitif siswi tersebut, berbeda dengan dugaan banyak warganet yang menilai ada unsur kesengajaan.
"Kalau diperhatikan kan itu ndak begini (memeras), sebatas itu saja. Jadi begitulah, tapi tetap kami ingatkan kedua orang tua," imbuhnya.
Meski demikian, Subhanudin menegaskan perbuatan tersebut tetap tidak bisa dibenarkan meskipun dilakukan dalam suasana bercanda. Pihak sekolah masih mempertimbangkan sanksi yang akan dijatuhkan.
Foto Viral dan Reaksi Warganet
Foto yang memperlihatkan seorang siswa berdiri santai sambil mengulurkan tangan kirinya ke arah dada teman perempuannya beredar luas di media sosial. Dalam foto tersebut, siswi yang menjadi korban tampak terkejut.
Unggahan itu diunggah ulang oleh sejumlah akun, salah satunya akun Facebook @juna_djtv, dan mendapat ratusan tanggapan dari warganet. Banyak yang mengecam tindakan siswa tersebut dan mendesak sekolah memberikan sanksi tegas.
Langkah Sekolah: Sanksi hingga Kemungkinan Pindah
Subhanudin belum mengambil keputusan final terkait sanksi untuk siswa pelaku. Ia menyebut ada beberapa opsi, mulai dari teguran, tetap sekolah dengan syarat tidak mengulangi, hingga pindah ke sekolah lain jika perbuatan dinilai sudah melampaui batas.
"Sanksi apa yang akan kami berikan, misalnya tetap sekolah tapi tidak melakukan lagi. Atau pindah sekolah lain kalau sudah melampaui batas," ujar Subhanudin.
Pihak sekolah berencana segera berkomunikasi dengan orang tua siswi untuk membahas kondisi psikologis korban dan langkah pendampingan selanjutnya. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Pendidikan Lombok Tengah terkait kasus ini.