MATARAM — Kepala OJK NTB, Rudi Sulistyo, menyatakan pemilihan kakao didasarkan pada potensi besar yang masih bisa dikembangkan di wilayah tersebut. "Kami menetapkan kakao sebagai komoditas prioritas karena memiliki potensi besar dalam meningkatkan pendapatan petani dan pertumbuhan ekonomi daerah," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Produksi 1.669 Ton Biji Kering per Hektare dari Lombok Utara
Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB mencatat, sektor ini menghasilkan 1.669 ton biji kering per hektare. Sejarah pengembangan kakao di NTB dimulai pada era 1980-an lewat Proyek Pengembangan dan Penyuluhan Pertanian Daerah (P4D).
Beberapa varietas unggulan daerah yang dikembangkan antara lain Ijo Kajuman, Beneng Jomot, dan Inderti DM01. Ketiganya menjadi andalan untuk meningkatkan produktivitas kebun petani di Lombok Utara.
Tiga Tantangan Utama Petani: Modal, Pasar, dan Asuransi
OJK NTB telah melakukan koordinasi dengan kelompok tani di Lombok Utara untuk memetakan persoalan di lapangan. Hasilnya, tiga hambatan utama teridentifikasi: keterbatasan modal usaha, ketiadaan kemitraan dengan perusahaan penampung (offtaker), dan rendahnya pemahaman terhadap asuransi pertanian.
"Kami juga melibatkan sektor asuransi dalam upaya memperkuat perlindungan usaha petani," pungkas Rudi. Menurutnya, proteksi finansial sangat krusial untuk memitigasi risiko gagal panen atau gangguan produksi yang bisa mengancam keberlangsungan usaha.
Fakta Singkat Kakao NTB:
- 60 persen basis perkebunan kakao NTB berada di Lombok Utara
- Produksi mencapai 1.669 ton biji kering per hektare
- 4.600 kepala keluarga menggantungkan hidup pada komoditas ini
- Tiga varietas unggulan: Ijo Kajuman, Beneng Jomot, dan Inderti DM01
Ke depan, OJK akan mendorong kemitraan petani dengan offtaker untuk menjamin stabilitas rantai pasok. Akses pembiayaan juga menjadi prioritas agar petani bisa memperluas skala usaha tani mereka tanpa terbentur modal.