MATARAM — Puluhan pelajar SD dari berbagai sekolah di Kota Mataram dan sekitarnya tampak fokus menorehkan kuas dan cat warna di permukaan caping yang cembung. Mereka beradu kreativitas dalam ajang yang digelar Museum Negeri NTB, Sabtu (22/8/26).
Kegiatan ini sengaja memilih caping sebagai media lukis untuk memberikan pengalaman baru bagi anak-anak. Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, mengatakan pihaknya ingin mendorong generasi muda agar tidak hanya berkarya di media konvensional.
“Kenapa melukis di media caping? Karena kita berharap lukisan itu tidak hanya di atas kertas saja, tetapi juga di media lainnya seperti caping,” terang Ahmad Nuralam.
Permukaan caping yang melingkar dan tidak rata menjadi tantangan yang berbeda bagi para peserta. Pelukis dan perupa, Zaini Muhammad, menilai media ini memaksa anak-anak untuk menyesuaikan teknik melukis mereka.
“Ini termasuk media baru untuk anak-anak. Media yang biasanya datar dua dimensi, sekarang menjadi tiga dimensional dan melingkar. Tantangannya lebih ekspresif bagi anak,” ujarnya.
Menurut Zaini, kemampuan peserta menghasilkan karya penuh warna di tengah keterbatasan media merupakan sebuah pencapaian. “Dengan media baru dan menghasilkan sesuatu yang full color, itu sudah berhasil,” katanya.
Dewan Juri, Dr. Sasi Gunalan, mengapresiasi langkah Museum NTB menghadirkan media lukis yang tidak lazim. Ia menilai penggunaan media tiga dimensi justru memberi ruang eksplorasi yang lebih luas bagi peserta untuk menyajikan ide.
“Dengan media baru seperti ini, adik-adik akan lebih banyak bereksplorasi bagaimana menyajikan gagasan mereka untuk disajikan dalam karya yang memang cukup baru bagi mereka,” ujarnya.
Setelah melalui penilaian juri, panitia mengumumkan sejumlah nama pemenang. Berikut daftar lengkapnya:
Melalui kegiatan bertajuk “Kotaku Museumku, Kampungku Museumku” ini, Museum NTB berharap bisa menjadi ruang kreatif yang dekat dengan generasi muda sekaligus mengenalkan alternatif media seni. Ahmad Nuralam menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan kegiatan yang kreatif dan berbudaya.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengeksplorasi kreativitas sekaligus mengenal alternatif media seni,” ujarnya.