Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal menunda kepulangannya ke Mataram dan memilih memperpanjang agenda solidaritas di Nusa Tenggara Timur selama satu hari. Keputusan itu diambil setelah ia melihat langsung kondisi warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Jumat (21/8/2026).
BORONG — Perjalanan darat sejauh lima jam dari Posko Inti Tim NTB di Dusun Dampe, Desa Satar Pudut, Kecamatan Lamba Leda Utara, ditempuh Miq Iqbal untuk memastikan koordinasi penanganan gempa berjalan lancar. Rombongan tiba di Posko Borong dan langsung disambut Sekretaris Daerah Manggarai Timur beserta jajaran perangkat daerah, relawan, dan masyarakat setempat. Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Timur tidak hadir karena masih berada di lapangan mendampingi warga terdampak.
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat itu, Miq Iqbal menyebut pengalaman NTB menangani gempa Lombok pada 2018 menjadi modal penting untuk membantu pemulihan di Manggarai Timur. Ia menekankan bahwa penanganan bencana tidak cukup hanya dengan menyalurkan bantuan, tetapi membutuhkan koordinasi kuat dan pendampingan hingga masa pemulihan.
"Kami pernah merasakan situasi yang sama. Karena itu kami memahami apa yang dirasakan saudara-saudara kami di sini. Yang terpenting adalah tetap kuat, tetap bersama, dan tidak kehilangan harapan untuk bangkit kembali," ujar Miq Iqbal.
Tim Solidaritas KR-BNN NTB yang sudah berada di lapangan disebut siap berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur agar bantuan yang diberikan tepat sasaran. Miq Iqbal menegaskan, kehadiran tim dari NTB merupakan wujud nyata solidaritas kepada masyarakat NTT yang tengah menghadapi masa sulit.
"Dalam situasi seperti ini, kebersamaan adalah kekuatan yang paling penting untuk mempercepat pemulihan aktivitas masyarakat. Kami datang dari NTB sebagai saudara. Tim kami sudah berada di lapangan, dan apa yang bisa kami bantu tentu akan kami koordinasikan dengan pemerintah daerah," katanya.
Penundaan kepulangan yang semula dijadwalkan Jumat pagi itu menjadi bagian dari komitmen Miq Iqbal dalam mendampingi proses pemulihan. Baginya, solidaritas kemanusiaan membutuhkan kehadiran dan komunikasi langsung, bukan sekadar seremonial penyerahan bantuan.
Dari Dampe hingga Borong, pesan yang dibawa rombongan sama: bencana tidak mengenal batas wilayah, dan persaudaraan antarprovinsi menjadi kekuatan utama dalam pemulihan.