MATARAM — Potensi suhu tertinggi berada di Kabupaten Sumbawa dengan 34 derajat Celsius, disusul Dompu 33 derajat, serta Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Bima yang diprakirakan mencapai 32 derajat Celsius. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat yang akan mengikuti rangkaian kegiatan luar ruangan pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.
Prakirawan BMKG Stamet ZAM, Dhian Yulie Cahyono, menegaskan paparan sinar matahari langsung pada siang hari berisiko memicu gangguan kesehatan. "Waspada terhadap dampak cuaca panas selama musim kemarau. Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah memakai pelindung diri serta tabir surya. Ini berguna meminimalkan paparan sinar matahari secara langsung," ujarnya kepada NTBSatu pada Minggu, 16 Agustus 2026.
Meski dominasi cuaca cerah berawan hingga cerah menyelimuti Kota Mataram dan Kota Bima sepanjang hari, sejumlah kabupaten justru berpotensi diguyur hujan ringan. Berdasarkan prakiraan BMKG, hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi pada pukul 14.00 hingga 17.00 Wita.
Wilayah yang perlu bersiap menghadapi hujan tersebut meliputi Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Dompu, dan Bima. Angin di wilayah NTB sendiri bertiup dari arah Timur hingga Tenggara dengan kecepatan berkisar 17 hingga 28 kilometer per jam.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk menjaga asupan cairan tubuh secara optimal, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan. Langkah sederhana ini dinilai penting untuk mencegah dehidrasi yang kerap muncul akibat suhu udara yang tinggi.
"Masyarakat sebaiknya memenuhi kebutuhan cairan tubuh, terutama ketika melakukan aktivitas di luar ruangan pada siang hari. Upaya tersebut penting untuk mencegah terjadinya dehidrasi akibat cuaca yang panas," tegas Dhian.
Selain ancaman dehidrasi, puncak musim kemarau juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG meminta masyarakat hingga pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko bencana lingkungan ini.
"Hal lain yang juga menjadi perhatian selama musim kemarau adalah potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Oleh karena itu, masyarakat hingga pemerintah perlu meningkatkan kewaspadaan dan menghindari tindakan yang dapat memicu kebakaran. Termasuk membuang sampah yang mudah terbakar secara sembarangan," pungkasnya.