BEIJING — Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI Muhammad Taufiq memimpin langsung delegasi PKN I Angkatan 69 dalam kunjungan kerja ke Tiongkok. Rombongan berdialog dengan China National Academy of Governance (CNAG) dan National Energy Administration (NEA). Agenda berlanjut dengan meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Yanqing di kawasan Longqingxia, Beijing.
Kunjungan itu menjadi bahan bagi delegasi untuk merumuskan enam rekomendasi utama. Rekomendasi tersebut akan dituangkan dalam policy brief dan Matriks Adaptasi Kebijakan sebagai masukan bagi kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.
Enam Rekomendasi Hasil Studi di Beijing
Delegasi menyusun enam butir rekomendasi yang menyasar titik-titik krusial transisi energi. Isinya sebagai berikut:
- Menyelaraskan pembangunan pembangkit dan jaringan listrik
- Mempercepat pengembangan sistem penyimpanan energi baterai (BESS)
- Memperkuat kepastian investasi
- Menyederhanakan koordinasi perizinan dan pemanfaatan lahan
- Mengembangkan industri nasional
- Memperluas digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan artifisial
Mengapa Tiongkok Jadi Rujukan Transisi Energi
Taufiq menilai pengalaman Tiongkok dalam tata kelola publik dan pemanfaatan energi baru terbarukan relevan bagi Indonesia. Menurutnya, teknologi PLTS serta integrasi jaringan energi menjadi pembelajaran berharga bagi delegasi.
"Pengalaman Tiongkok dalam tata kelola publik, pemanfaatan energi baru terbarukan, teknologi PLTS, serta integrasi jaringan energi menjadi pembelajaran berharga bagi delegasi kami," ujar Taufiq, Selasa (27/10/2026).
Ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan adaptif dan kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan transisi energi. Dua hal itu dinilai menjadi kunci ketika kebijakan energi harus berjalan seiring kesiapan infrastruktur.
Target 69,5 GW di RUPTL PLN 2025–2034
Ketua Angkatan PKN I/69 I Dewa Nyoman Agung Dharma Wijaya menyebut pengembangan energi bersih membutuhkan perencanaan terpadu, kesiapan jaringan, dan teknologi penyimpanan energi. Pembelajaran dari PLTS Longqingxia dinilai memberi gambaran soal tata kelola pembangkit energi bersih.
Delegasi juga mendalami sistem kelistrikan Tiongkok yang mengandalkan energi surya dan angin. Sistem itu didukung penguatan jaringan serta penyimpanan energi.
"Kunjungan ke PLTS Longqingxia memberikan pembelajaran tentang tata kelola pembangkit energi bersih. Kami juga mendalami pengembangan sistem kelistrikan Tiongkok yang mengandalkan energi surya dan angin, didukung penguatan jaringan serta penyimpanan energi," jelasnya.
Pembelajaran tersebut dikaitkan dengan RUPTL PLN 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi sebesar 69,5 gigawatt (GW). Dari jumlah itu, 42,6 GW dialokasikan untuk energi baru terbarukan (EBT), termasuk 17,1 GW tenaga surya.
Kesiapan Jaringan dan Pembiayaan Jadi Kunci
Sekretaris Angkatan PKN I/69 Mohammad Averrouce menyoroti kesiapan jaringan transmisi dan kepastian pembiayaan. Keduanya disebut sebagai kunci agar target kapasitas pembangkit dapat direalisasikan.
Averrouce juga menyinggung penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Menurutnya, kebijakan itu perlu berjalan bersama alih teknologi dan pengembangan tenaga kerja.
"Kesiapan jaringan transmisi dan kepastian pembiayaan menjadi kunci. Penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga perlu berjalan bersama alih teknologi dan pengembangan tenaga kerja agar transisi energi membuka lebih banyak lapangan kerja hijau," ungkapnya.
Hasil studi diharapkan mempercepat pengembangan energi terbarukan dan memperkuat keandalan pasokan listrik. Dua dampak lain yang dibidik adalah peningkatan daya saing industri serta perluasan lapangan kerja hijau di Indonesia.