Pencarian

Studi Machine Learning OneStrata Tantang Teori Lima Kepunahan Massal Bumi

Selasa, 27 Oktober 2026 • 18:47:01 WIB
Studi Machine Learning OneStrata Tantang Teori Lima Kepunahan Massal Bumi
Model machine learning OneStrata memetakan waktu kepunahan 110 ribu spesies dari 2,8 juta data fosil global.

NUSA TENGGARA BARAT — Penelitian berbasis machine learning bernama OneStrata menyimpulkan tiga dari lima kepunahan massal Bumi berlangsung lebih bertahap, bukan seketika seperti anggapan umum. Model ini memproses 2,8 juta fosil dari 31 ribu penampang stratigrafi di seluruh dunia untuk memetakan waktu kepunahan 110 ribu spesies dengan resolusi hingga 1.000 tahun. Temuan ini dipresentasikan di konferensi Geological Society of America dan langsung memicu perdebatan di kalangan paleontolog.

Profesor Shuzhong Shen dari Nanjing University, China, bersama tim penulisnya memakai OneStrata untuk memproses data fosil yang tersebar di 31 ribu penampang stratigrafi global. Perangkat lunak ini menghasilkan perkiraan probabilitas kapan setiap lapisan fosil terendapkan, lalu menerapkannya pada 2,8 juta fosil.

Hasilnya, tim memperkirakan waktu kepunahan 110 ribu spesies dalam rentang hanya 1.000 tahun. Resolusi itu jauh lebih rapat dibanding metode konvensional yang biasanya hanya mampu membaca interval jutaan tahun.

Mengapa Resolusi 1.000 Tahun Mengubah Kesimpulan

Para paleontolog lazim mengidentifikasi kepunahan dengan melihat ada atau tidaknya suatu spesies pada interval jutaan tahun. Jika spesies ditemukan luas selama satu juta tahun lalu hilang dari batuan yang lebih muda, spesies itu dianggap punah sekitar periode tersebut.

Masalahnya, satu juta tahun adalah rentang yang sangat panjang. Sebagian besar spesies yang hilang dalam peristiwa K-Pg, kepunahan massal Cretaceous akibat tumbukan Chicxulub, diperkirakan punah dalam waktu kurang dari satu atau dua tahun. Kepunahan massal lain diperkirakan berlangsung dalam 100 ribu tahun atau kurang.

Dengan membaca catatan fosil pada skala 1.000 tahun, tiga dari lima kepunahan besar tampak jauh lebih bertahap dibanding pandangan tradisional. OneStrata juga mendeteksi kemunculan spesies baru pada waktu yang sama, bukan hanya setelah spesies lama mati.

Dua Peristiwa Tetap Disebut Keruntuhan Global

Shen tidak menyimpulkan bahwa kepunahan massal tidak pernah terjadi. Bahkan jika spesies baru muncul bersamaan, tingkat kepunahan yang jauh di atas tingkat latar belakang tetap menandakan peristiwa besar.

Penulis studi membedakan dua peristiwa sebagai keruntuhan keanekaragaman hayati global yang mendalam, sementara tiga peristiwa lain dinilai lebih bernuansa. Perbedaan ini membuka pertanyaan apakah kelima peristiwa punya penyebab berbeda atau kehidupan hanya merespons dengan cara berbeda.

Penyebab empat kepunahan massal pertama masih diperdebatkan. Letusan wilayah vulkanik besar biasanya menjadi penjelasan yang paling banyak diterima untuk masing-masing peristiwa.

Kritik dari Paleontolog Oxford

Karya Shen dan rekan-rekannya belum sepenuhnya diterima di bidang ini. Profesor Erin Saupe dari Oxford University menyatakan keraguan atas interpretasi pola temporal yang dihasilkan model.

"Saya sangat berhati-hati dalam menafsirkan pola temporal yang tampak terlalu harfiah saat ini," kata Saupe, seperti dikutip dari Nature.

Keraguan semacam ini bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, peneliti lain telah menantang aspek gambaran konvensional, termasuk menemukan bahwa dampak beberapa kepunahan massal bervariasi di seluruh pohon kehidupan. Sejumlah studi mempertanyakan sejauh mana tumbuhan dan serangga terdampak selama peristiwa akhir Permian dan K-Pg.

Implikasi untuk Debat Kepunahan Massal Keenam

Temuan OneStrata juga bersinggungan dengan perdebatan yang lebih baru: apakah gelombang kehancuran yang ditimbulkan manusia layak disebut kepunahan massal keenam. Sebagian besar analisis masih berlangsung, dan peta waktu yang lebih presisi bisa mempertajam perbandingan antara peristiwa purba dan laju kehilangan spesies saat ini.

Bagi industri machine learning, kasus OneStrata menunjukkan penerapan pengenalan pola pada data ilmiah yang tidak lengkap. Catatan fosil dikenal berlubang, dan model probabilistik membantu peneliti menambal celah itu tanpa mengklaim kepastian mutlak.

Presentasi di Geological Society of America menjadi langkah awal sebelum temuan ini melewati proses telaah sejawat penuh. Sampai itu terjadi, klaim bahwa tiga dari lima kepunahan massal tidak sedahsyat perkiraan lama masih akan diuji ulang oleh komunitas paleontologi global.

Follow lensasumbawa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks