MATARAM — Angka kemiskinan Kota Mataram pada 2026 turun 0,97 poin persentase dibanding tahun sebelumnya. Data BPS Kota Mataram yang dirilis pekan ini menunjukkan jumlah penduduk miskin menyusut dari 39.816 jiwa pada 2025 menjadi 35.118 jiwa pada 2026.
Wali Kota Mataram Mohan Roliskana menyebut capaian itu sebagai konfirmasi bahwa program intervensi pemerintah kota berjalan di jalur yang benar. Menurut dia, penurunan tidak lepas dari kerja kolektif sejumlah pihak, termasuk pemerintah pusat dan dukungan program aspirasi anggota DPR RI dari NTB.
Berapa Angka Kemiskinan Mataram pada 2026?
Persentase penduduk miskin Kota Mataram tercatat 6,18 persen pada 2026. Angka itu turun dari 7,15 persen pada 2025, dengan selisih jumlah penduduk miskin sebanyak 4.698 jiwa.
BPS Kota Mataram menjadi sumber data utama capaian tersebut. Pemerintah kota menilai tren penurunan ini menjadi sinyal positif bagi upaya pengentasan kemiskinan di ibu kota NTB.
"Kalau data itu keluar dari BPS dan menyampaikan angka penurunan tersebut, kita sudah on the track dalam penanganan isu kemiskinan ini. Tinggal kita lanjutkan penguatan terhadap variabel yang selama ini kita intervensi," ujar Mohan, Senin (26/10/2026).
Indeks Keparahan Kemiskinan Mataram Justru Naik
Di balik penurunan jumlah penduduk miskin, data BPS mencatat indeks kedalaman kemiskinan (P1) pada 2026 bertahan di angka 1,34 persen. Angka itu sama dengan posisi tahun sebelumnya.
Yang perlu dicermati, indeks keparahan kemiskinan (P2) meningkat dari 0,35 menjadi 0,42 persen. Kenaikan ini menunjukkan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan.
Artinya, penurunan jumlah warga miskin belum otomatis memperbaiki kondisi mereka yang paling tertinggal secara ekonomi. Pemerintah kota perlu memastikan program penanggulangan kemiskinan menjangkau kelompok ini, bukan hanya mengejar capaian statistik.
Program Apa yang Akan Dilanjutkan Pemkot Mataram?
Mohan menegaskan pemerintah kota akan melanjutkan program-program yang selama ini menjadi instrumen intervensi kemiskinan. Langkah itu diperlukan agar tren penurunan tidak berhenti pada capaian statistik tahun ini.
"Banyak sektor yang berkontribusi, termasuk dukungan dari pemerintah pusat. Kerja kolektif ini kemudian menghasilkan angka kemiskinan yang berkurang," katanya.
Dia juga mengingatkan perkembangan angka kemiskinan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi global hingga perubahan kebijakan dan situasi ekonomi yang berkembang.
"Yang penting kami berusaha agar terus menurun. Banyak hal yang memengaruhi fluktuasi statistik ini, mulai dari kondisi global, kebijakan, hingga situasi-situasi yang berkembang," ujarnya.
Bagi warga Mataram yang masih berada di bawah garis kemiskinan, tantangan terdekat bukan lagi soal jumlah, melainkan seberapa dalam program bantuan menyentuh mereka yang paling membutuhkan.