JAKARTA — BRI menutup paruh pertama 2026 dengan catatan kinerja yang solid di tengah tekanan ekonomi global. Total aset perseroan tumbuh 11,7 persen secara tahunan menjadi Rp2.352 triliun, seiring akselerasi kredit yang mencapai Rp1.646 triliun. Realisasi itu sekaligus mendorong laba bersih BRI menembus Rp31,2 triliun hingga akhir Juni 2026.
Pertumbuhan kredit dua digit tersebut tidak membuat BRI mengendurkan prinsip kehati-hatian. Rasio kredit bermasalah (NPL) malah turun dari 3,07 persen pada akhir 2025 menjadi 2,9 persen di Triwulan II 2026. Perbaikan serupa terjadi pada rasio Loan at Risk (LaR) yang menyusut dari 9,6 persen menjadi 9,1 persen.
Modal Tangguh dan Dana Murah Meningkat
Ketahanan BRI terlihat dari struktur permodalan yang jauh di atas ambang batas regulator. Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 21,5 persen, memberi ruang ekspansi bisnis tanpa mengorbankan ketahanan terhadap risiko. Likuiditas juga terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) konsolidasi di level 90,8 persen.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7 persen secara yoy. Komposisinya semakin berkualitas setelah rasio dana murah (CASA) meningkat dari 65,5 persen menjadi 67,6 persen. Artinya, ketergantungan BRI pada deposito berbiaya tinggi semakin mengecil.
Mengapa Kualitas Aset Terus Membaik?
Penurunan rasio NPL dan LaR tidak terjadi tanpa sebab. BRI menerapkan strategi selective growth, terutama pada segmen ritel, serta memperkuat early warning system untuk mendeteksi potensi kredit bermasalah lebih dini. Fungsi collection dan recovery juga dioptimalkan sepanjang semester pertama.
Hasilnya, biaya pencadangan atau Cost of Credit (CoC) ikut turun dari 3,4 persen pada akhir 2025 menjadi 3,1 persen. Ini menandakan kualitas booking kredit baru yang semakin baik dan risiko yang lebih terukur.
UMKM Tetap Jadi Mesin Utama Pertumbuhan
Dengan modal yang kokoh dan likuiditas yang memadai, BRI memastikan ruang intermediasi tetap terbuka lebar. Fokus utama perseroan masih tertuju pada segmen UMKM yang menjadi core business. Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya memperluas inklusi keuangan sekaligus mendukung agenda prioritas pemerintah.
"Dengan likuiditas yang terkelola dengan baik dan permodalan yang tetap kuat, BRI memiliki fondasi yang memadai untuk melanjutkan pertumbuhan secara sehat dan berkelanjutan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian," ujar Achmad Royadi dalam konferensi pers di Kantor Pusat BRI, Jakarta.
Ke depan, BRI diproyeksikan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan profitabilitas. Penguatan struktur pendanaan yang berkualitas akan menjadi kunci untuk mempertahankan laju bisnis hingga akhir tahun.