NUSA TENGGARA BARAT — RSUD Cut Nyak Dhien di Meulaboh akhirnya menghidupkan kembali layanan Cath Lab yang sudah mati sejak 2018. Bupati Aceh Barat Tarmizi bersama Wakil Bupati Said Fadheil dan jajaran meninjau langsung persiapan peresmian fasilitas tersebut, yang dijadwalkan berbarengan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kabupaten Aceh Barat.
Yang menarik, operasi perdana menggunakan Cath Lab ini sudah dilakukan hari Minggu kemarin, bukan sekadar seremonial. Prosedur tersebut melibatkan Wakil Direktur Rumah Sakit Adam Malik Medan yang juga menjabat Sekretaris Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Pusat.
Kenapa Cath Lab Ini Penting Banget untuk Wilayah Barat-Selatan Aceh?
Keberadaan Cath Lab yang berfungsi bukan perkara sepele. Dari informasi yang disampaikan Bupati Tarmizi, baru ada dua rumah sakit di wilayah barat selatan Aceh yang punya fasilitas ini—satu di Aceh Barat, satu lagi di Aceh Selatan.
Buat pasien jantung di daerah, dulu harus dirujuk ke Banda Aceh. Itu artinya biaya transportasi, akomodasi keluarga, dan waktu yang terbuang di perjalanan. Sekarang, opsi lebih dekat sudah mulai tersedia.
Soal Biaya: Selisih Jauh Kalau Harus ke Banda Aceh
Bupati menyebut satu kali pemasangan ring jantung bisa memakan biaya Rp30 juta sampai Rp40 juta. Angka ini di luar biaya transportasi dan akomodasi kalau pasien harus berobat ke luar kota.
Saat ini Pemkab Aceh Barat masih menunggu proses kerja sama dengan BPJS Kesehatan. Targetnya, kerja sama tersebut rampung pada Oktober mendatang. Kalau sudah aktif, pasien BPJS tidak perlu lagi memikirkan biaya selangit untuk layanan jantung di rumah sakit sendiri.
Bukan Cuma Cath Lab: Ada Program Operasi Bibir Sumbing Gratis
Dalam peninjauan yang sama, Tarmizi juga menyebut program kerja sama dengan Smile Train untuk operasi bibir sumbing gratis. Sudah ada 10 pasien yang dioperasi sehari sebelumnya, dan Bupati sempat menjenguk mereka. Rencananya, kerja sama ini akan terus ditingkatkan secara bertahap.
Yang Perlu Diperhatikan ke Depan
Meski kabar ini positif, ada catatan yang perlu dipantau. Pertama, kerja sama BPJS yang ditargetkan Oktober harus benar-benar terealisasi—kalau tidak, layanan Cath Lab ini hanya bisa dinikmati pasien mandiri atau asuransi swasta, dan itu ironis di daerah dengan keterbatasan ekonomi.
Kedua, alat yang sudah mati sejak 2018 dan baru difungsikan lagi butuh perawatan serius. Jangan sampai kejadian serupa terulang: dibeli mahal, tidak terpakai, lalu mangkrak bertahun-tahun. Komitmen maintenance dan ketersediaan teknisi jadi faktor krusial yang tidak boleh dilupakan.
Ketiga, CT Scan juga disebut akan ditingkatkan dan disempurnakan secara bertahap. Ini langkah yang baik, tapi perlu dipastikan ada tenaga operator dan radiolog yang siap, bukan cuma pengadaan alat.
Kesimpulan
Operasional kembali Cath Lab di RSUD Cut Nyak Dhien adalah langkah maju yang nyata untuk pelayanan kesehatan jantung di Aceh Barat. Kalau kerja sama BPJS dan perawatan alat berjalan sesuai rencana, warga tidak perlu lagi menguras tabungan untuk rujuk ke Banda Aceh.
Ini bukan peluncuran produk baru yang penuh gimmick—ini soal menghidupkan aset negara yang terbengkalai demi kepentingan publik. Tinggal bagaimana pemerintah daerah menjaga momentum ini agar tidak mati lagi di tengah jalan.