Kunjungan Prabowo ke Rusia Dinilai Buka Celah Ekspor Baru, CORE: RI Tak Boleh Bergantung pada Satu Kubu

Penulis: Sigit Wicaksono  •  Sabtu, 05 September 2026 | 09:03:01 WIB
Ekonom CORE Indonesia menilai kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia membuka peluang ekspor baru di tengah fragmentasi global.

NUSA TENGGARA BARAT — Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menyatakan kehadiran kepala negara di forum multilateral itu bukan sekadar seremoni. Dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, ia menekankan bahwa dunia yang terfragmentasi memaksa Indonesia mencari mitra dagang alternatif untuk menekan risiko sekaligus mengeksplorasi potensi yang selama ini belum tergarap maksimal.

"Memang perlu dicari opsi-opsi untuk kerja sama yang bisa, pertama, meminimalisir risiko dari fragmentasi global tersebut, dan yang kedua tentu saja untuk melihat peluang-peluang baru yang belum banyak tergali," ujar Faisal.

Bukan Hanya Rusia, China hingga Korsel Jadi Target

Faisal menilai forum yang digelar di Vladivostok ini menjadi panggung strategis bagi Indonesia untuk menjajaki kerja sama dengan negara-negara Asia lainnya. Ia menyebut China, Jepang, dan Korea Selatan turut menjadi peserta yang potensial untuk diajak berkolaborasi, mengingat posisi Indonesia sebagai negara besar dengan hubungan historis yang panjang.

Keanggotaan Indonesia dalam BRICS disebutnya menjadi modal tambahan untuk memperluas cengkeraman kerja sama ekonomi. Namun, ia mengingatkan tensi geopolitik yang masih panas membawa tantangan tersendiri, terutama soal pembatasan perdagangan dan sanksi internasional.

Diplomasi Bebas Aktif Jadi Kunci di Tengah Tekanan Sanksi

Justru karena tekanan itulah, Faisal menilai pentingnya Indonesia menjaga kredibilitas politik luar negeri yang non-blok. Menurutnya, kemampuan diplomasi menjadi penentu apakah Indonesia bisa tetap leluasa berdagang dan menarik investasi tanpa terseret dalam pusaran persaingan global.

Indonesia dinilai perlu terus menjalin hubungan dengan berbagai kelompok negara untuk menjaga ruang gerak ekonomi. Dengan begitu, risiko dari persaingan ketat antarnegara adidaya bisa dikelola tanpa mengorbankan kepentingan nasional.

Target Dagang Ganda: Nilai Ekspor Capai USD 5 Miliar

Dalam pidatonya di EEF pada Kamis (3/9), Prabowo mengusulkan percepatan implementasi perjanjian perdagangan bebas Indonesia-Eurasian Economic Union (I-EAEU) yang dijadwalkan mulai berlaku pada 2027. Blok ekonomi ini mencakup Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, dan Rusia.

Presiden membeberkan nilai perdagangan bilateral Indonesia-Rusia telah menyentuh angka USD 5 miliar sepanjang 2025, atau melonjak 21,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Data Kementerian Perdagangan mencatat realisasi ekspor-impor kedua negara mencapai USD 4,84 miliar pada 2025, dan sudah mengumpulkan USD 3,6 miliar pada periode Januari—Juli 2026.

Peta Komoditas: Sawit dan Gandum Jadi Ujung Tombak

Prabowo mengidentifikasi komoditas unggulan yang bisa saling melengkapi. Indonesia disebut memiliki keunggulan di minyak sawit, kopi, produk perikanan, karet, tekstil, dan barang konsumsi. Sementara Rusia menguasai sektor gandum, pupuk, energi, serta teknologi sains dan rekayasa.

Lebih jauh, Prabowo menawarkan Indonesia sebagai gerbang utama bagi pelaku usaha Eurasia untuk menembus pasar ASEAN yang berpenduduk sekitar 680 juta jiwa. Inisiatif ini dinilai sebagai langkah konkret untuk memperkuat posisi dagang Indonesia di kancah internasional.

Investasi dan perdagangan internasional mengandung risiko.

Reporter: Sigit Wicaksono
Sumber: kl.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top