MATARAM — Delapan tahun sudah berlalu sejak rangkaian gempa bumi menerjang Pulau Lombok pada Juli hingga Agustus 2018. Namun, bagi Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kadiskominfotik) NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, ingatan itu tidak boleh memudar begitu saja.
Dalam sebuah opini yang dimuat di media lokal, Ahsanul mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengenang duka, tetapi merawat pelajaran yang ditinggalkan oleh bencana tersebut. Menurutnya, Lombok kini telah bangkit. Rumah-rumah yang runtuh telah berdiri kembali, jalan-jalan yang retak telah tersambung, dan pasar kembali ramai. Namun, bangkit bukan berarti melupakan.
Ahsanul menegaskan bahwa gempa bumi bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri di tahun 2018. Ia merujuk pada catatan sejarah panjang Pulau Lombok yang tak lepas dari dinamika tektonik. Naskah Babad Lombok bahkan mengisahkan letusan dahsyat Gunung Samalas pada tahun 1257 yang mengubah bentang alam pulau ini.
"Jauh sebelum itu, sejarah telah berkali-kali mencatat bagaimana bumi Lombok bergerak dan mengubah perjalanan pulau ini," tulisnya. Rentetan gempa besar tercatat pada 22 Juni 1856, penghujung abad ke-19, tahun 1979, gempa 22 Juni 2013 di Lombok Timur, hingga rangkaian guncangan pada 29 Juli, 5 Agustus, 9 Agustus, dan 19 Agustus 2018.
Ahsanul mendeskripsikan pagi Minggu, 29 Juli 2018, sebagai pagi yang biasa. Selepas Subuh, warga bersiap ke sawah, ke pasar, atau sekadar menikmati libur akhir pekan. Tak ada yang menduga bahwa bumi akan berguncang hebat, mengubah kehidupan ribuan orang dalam sekejap.
"Ketika bumi berguncang, semuanya berubah dalam hitungan detik. Orang-orang berhamburan keluar rumah tanpa sempat membawa apa pun. Anak-anak menangis dalam pelukan orang tuanya," kenangnya. Belum sempat tenang, gempa yang lebih besar pada 5 Agustus, disusul guncangan pada 9 dan 19 Agustus, membuat kecemasan seolah tak pernah pergi.
Di tengah duka yang meluas, Ahsanul menyoroti pemandangan yang justru memberikan harapan. Gotong royong hadir tanpa menunggu perintah. Tetangga menjadi keluarga. Mereka yang memiliki makanan berbagi dengan yang kelaparan. Bantuan dari relawan, TNI, Polri, hingga pelaku usaha berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia.
"Barangkali di situlah wajah terbaik kemanusiaan tampak paling nyata. Bencana memang memperlihatkan betapa rapuhnya manusia di hadapan alam, tetapi juga menunjukkan betapa besarnya kekuatan solidaritas," ujar Jubir Pemprov NTB itu.
Bagi Ahsanul, pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah apakah gempa akan datang kembali. Alam akan terus bergerak. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah setiap peristiwa yang telah berlalu mampu diubah menjadi pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kebijaksanaan. Ia menutup tulisannya dengan harapan agar ingatan tentang gempa 2018 terus hidup, bukan untuk merawat duka, melainkan untuk menjaga pelajaran yang ditinggalkannya bagi generasi mendatang di NTB.