Dari sebelas sektor industri, delapan di antaranya berakhir di zona merah. Sektor infrastruktur menjadi yang paling tertekan dengan koreksi mencapai 1,25%. Sektor industrial justru menjadi penopang utama dengan penguatan 0,68%.
Tiga saham dengan kontribusi penguatan terbesar terhadap IHSG adalah DCII, CASA, dan BMRI. Sebaliknya, tekanan datang dari saham TLKM, BREN, dan ASII yang menjadi pemberat indeks.
Di pasar reguler, investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp 491,89 miliar. Angka tersebut membengkak menjadi Rp 820,67 miliar jika dihitung dari seluruh pasar. Di sisi global, bursa Amerika Serikat bergerak bervariasi—Dow Jones naik 0,51%, S&P 500 menguat tipis 0,02%, sementara Nasdaq terkoreksi 0,18%.
ETF EIDO dan MSCI Indonesia turut melemah masing-masing 0,98% dan 0,27%, menandakan tekanan juga datang dari sentimen eksternal terhadap aset Indonesia.
PT Sunindo Pratama Tbk (SUNI) memenangkan tender pengadaan Wellhead dan Xmas Tree untuk Pertamina EP Regional 1. Nilai kontrak mencapai Rp 43,74 miliar dengan masa pelaksanaan selama 1 tahun 4 bulan 50 hari kalender. Kontrak ini melengkapi proyek sebelumnya dari Pertamina Hulu Rokan senilai maksimal Rp 62,55 miliar, sehingga total nilai dua kontrak baru mencapai Rp 106,29 miliar.
Perolehan proyek ini menjadi angin segar setelah kinerja semester I-2026 menurun. Penjualan SUNI tercatat Rp 324,29 miliar, turun 25,99% year-on-year, sementara laba periode berjalan turun 35,60% menjadi Rp 57,91 miliar. Nilai kontrak baru setara 32,78% dari penjualan semester I-2026, meski pengakuan pendapatan akan dilakukan bertahap hingga 2028.
PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) memperkenalkan NewConnext, layanan digital terintegrasi melalui anak usaha PT Data Prima Solusindo. Layanan ini mencakup konektivitas jaringan domestik dan internasional, pusat data, otomasi proses bisnis berbasis AI, hingga penyediaan tenaga kerja profesional. Langkah ini beriringan dengan pertumbuhan pendapatan kuartal I-2026 yang melesat dari Rp 12,10 miliar menjadi Rp 383,60 miliar, didominasi jasa outsourcing (86,79%).
Sementara itu, PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) membukukan pendapatan neto Rp 11,25 triliun pada semester I-2026, naik 8,45% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba periode berjalan melonjak 24,44% menjadi Rp 485,97 miliar, mencerminkan efisiensi operasional. Hingga Juni 2026, jumlah gerai MIDI mencapai 2.662 unit, dengan target pembukaan sekitar 200 gerai baru sepanjang tahun ini didukung belanja modal Rp 1,50 triliun.
Berikut rekomendasi saham untuk perdagangan hari ini berdasarkan analisis teknikal:
Disclaimer: Analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Investasi mengandung risiko.