LOMBOK TIMUR — Tabungan siswa yang terkumpul di dua sekolah Islam di Lombok Timur mencapai Rp 425 juta, namun hingga awal Juli 2026 para wali murid belum menerima pembagiannya. Salah satu wali murid, AZ, mengungkapkan bahwa permasalahan ini sudah berlangsung lama dan bukan kali pertama terjadi.
"Tanggal 27 Juni kemarin kami dimediasi, tetapi hingga sekarang belum ada kejelasan kapan pastinya akan dibagikan tabungan ini, makanya kami protes," kata AZ kepada wartawan, Rabu (1/7/2026).
Menurut AZ, nominal tabungan setiap siswa tidak sama. Ada wali murid yang menabung Rp 5 juta, Rp 15 juta, bahkan ada yang mencapai Rp 30 juta. Total keseluruhan yang belum dicairkan tahun ini disebut mencapai Rp 425 juta.
"Informasinya tahun ini sekitar Rp 425 juta. Masing-masing wali murid memiliki tabungan yang bervariasi," beber AZ.
AZ mengungkapkan, dalam mediasi yang digelar akhir Juni lalu, pihak sekolah melarang para wali murid mengunggah permasalahan ini ke media sosial. Larangan itu membuat sebagian besar wali murid enggan bersuara meski merasa dirugikan.
"Semuanya sebenarnya mengeluh, tetapi mereka tidak ada yang berani bersuara. Kami juga takut karena sudah ada penyampaian seperti itu," ujar AZ.
Menurut AZ, kasus tabungan siswa yang tidak cair bukan pertama kali terjadi di sekolah tersebut. Namun, pada tahun-tahun sebelumnya nominalnya tidak sebesar tahun ini. Ia berharap ada tindak lanjut dari pihak sekolah maupun dinas pendidikan setempat.
Sementara itu, pihak SDI dan SMPI As-Saggaf NW Bengkaung belum bersedia memberikan penjelasan terkait keluhan wali murid hingga berita ini diterbitkan.