Tabungan Siswa Rp 425 Juta di SD-SMP Islam Lombok Timur Tak Kunjung Cair, Wali Murid Protes ke Sekolah

Penulis: Taufik Rahman  •  Kamis, 02 Juli 2026 | 00:42:31 WIB
Wali murid SD-SMP Islam Lombok Timur protes penundaan pencairan tabungan siswa senilai Rp 425 juta.

LOMBOK TIMUR — Tabungan siswa yang terkumpul di dua sekolah Islam di Lombok Timur mencapai Rp 425 juta, namun hingga awal Juli 2026 para wali murid belum menerima pembagiannya. Salah satu wali murid, AZ, mengungkapkan bahwa permasalahan ini sudah berlangsung lama dan bukan kali pertama terjadi.

"Tanggal 27 Juni kemarin kami dimediasi, tetapi hingga sekarang belum ada kejelasan kapan pastinya akan dibagikan tabungan ini, makanya kami protes," kata AZ kepada wartawan, Rabu (1/7/2026).

Nominal Tabungan Bervariasi, Ada yang Capai Rp 30 Juta

Menurut AZ, nominal tabungan setiap siswa tidak sama. Ada wali murid yang menabung Rp 5 juta, Rp 15 juta, bahkan ada yang mencapai Rp 30 juta. Total keseluruhan yang belum dicairkan tahun ini disebut mencapai Rp 425 juta.

"Informasinya tahun ini sekitar Rp 425 juta. Masing-masing wali murid memiliki tabungan yang bervariasi," beber AZ.

Larangan dari Sekolah: Wali Murid Dilarang Bicara ke Medsos

AZ mengungkapkan, dalam mediasi yang digelar akhir Juni lalu, pihak sekolah melarang para wali murid mengunggah permasalahan ini ke media sosial. Larangan itu membuat sebagian besar wali murid enggan bersuara meski merasa dirugikan.

"Semuanya sebenarnya mengeluh, tetapi mereka tidak ada yang berani bersuara. Kami juga takut karena sudah ada penyampaian seperti itu," ujar AZ.

Kasus Serupa Pernah Terjadi, Nominal Lebih Kecil

Menurut AZ, kasus tabungan siswa yang tidak cair bukan pertama kali terjadi di sekolah tersebut. Namun, pada tahun-tahun sebelumnya nominalnya tidak sebesar tahun ini. Ia berharap ada tindak lanjut dari pihak sekolah maupun dinas pendidikan setempat.

Sementara itu, pihak SDI dan SMPI As-Saggaf NW Bengkaung belum bersedia memberikan penjelasan terkait keluhan wali murid hingga berita ini diterbitkan.

Reporter: Taufik Rahman
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top