MATARAM — Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, menyebut program stimulus 1.000 hektare itu menyasar dua skema sekaligus. Setengahnya untuk perluasan areal tanam, setengahnya lagi untuk peremajaan tanaman tebu yang sudah menurun produktivitasnya.
Dari sejumlah bentuk dukungan, hanya bantuan benih yang sudah dipastikan. Komponen lainnya masih menunggu keputusan Kementan.
"Yang paling utama benih. Untuk paket lainnya kita belum tahu karena pusat yang menentukan," kata Mirza.
Perluasan Diarahkan ke Radius Terdekat Pabrik Gula Dompu
Lokasi pengembangan tidak disebar merata. Pemprov NTB memprioritaskan areal yang jaraknya dekat dengan pabrik gula PT SMS di wilayah Pekat, Kabupaten Dompu.
Pertimbangannya teknis. Tebu gula punya karakter berbeda dengan tebu jenis lain, terutama soal waktu tempuh dari kebun ke pabrik.
"Untuk tebu gula, tidak boleh terlalu jauh dari pabrik. Semakin jauh diangkut, rendemen bisa turun. Setelah ditebang, tebu harus segera dibawa ke pabrik," jelas Mirza.
Selain jarak, pengembangan areal juga diminta mempertimbangkan tata ruang dan keberlanjutan lingkungan. Dua hal itu disebut Mirza sebagai syarat yang tidak bisa dilewati begitu saja.
Alur Usulan Petani hingga Bantuan Turun ke Lahan
Pemprov NTB tidak menyalurkan bantuan secara langsung. Perannya lebih pada mengoordinasikan usulan calon petani dan calon lokasi (CPCL) dari daerah.
Setelah usulan terkumpul, Kementan yang menetapkan mekanisme penyaluran. Bantuan lalu diberikan kepada petani sesuai skema yang ditetapkan pusat.
Pola pengembangan tebu di Dompu sendiri berjalan lewat kemitraan dengan perusahaan pengolah gula. Ekosistem industri itu disebut Mirza sudah terbentuk, sehingga pengembangan dinilai punya prospek.
Keterbatasan Bahan Baku Jadi Alasan Utama
Selama ini pasokan bahan baku menjadi kendala industri gula di NTB. Perluasan areal tebu diharapkan menambah pasokan sekaligus memperkuat posisi petani.
Dampak ekonominya tidak berhenti di kebun. Industri pengolahan tebu membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar dan menggerakkan aktivitas di sekitar kawasan perkebunan.
"Multiplier effect dari pembangunan pabrik ini akan berdampak terhadap perekonomian," ujar Mirza.
Keberadaan pabrik pengolahan disebut berpotensi menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah. Selain membuka peluang bagi petani, industri tersebut menyerap tenaga kerja dan menghidupkan usaha di sekitar lokasi.