NUSA TENGGARA BARAT — Rentetan erupsi yang terjadi nyaris bersamaan ini dipicu oleh tingginya proses kebumian, bukan oleh satu faktor geologis tunggal. Aktivitas vulkanik dan tektonik yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara merupakan fenomena biasa yang perlu dipahami secara ilmiah.
Deretan Gunung Api yang Meletus dan Karakteristiknya
Erupsi diawali Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda pada Jumat (4/9) malam. Letusan bertipe Strombolian hingga Hawaiian ini relatif tidak terlalu besar, namun berlangsung nyaris 25 jam secara kontinu.
Durasi panjang itu membuat abu vulkanik disemburkan hingga ketinggian belasan kilometer. Sebaran abu terbagi ke dua arah: tenggara menuju Banten dan barat daya ke Lampung hingga Samudra Hindia, tergantung lapisan ketinggian angin yang terkonfirmasi analisis citra Himawari-9 BMKG.
Erupsi susulan terjadi di Gunung Ibu (Maluku Utara), Gunung Ili Lewotolok (NTT), Gunung Lewotobi Laki-Laki (NTT), Gunung Sinabung (Sumatera Utara), Gunung Dukono (Maluku Utara), dan Gunung Semeru (Jawa Timur).
Mengapa Gunung Api di Indonesia Tidak Bisa Disamaratakan
Kepala Departemen Geofisika ITS itu menjelaskan, Semeru dan Krakatau dipengaruhi interaksi lempeng Asia-Australia yang menunjam di bawah Lempeng Eurasia (Sunda). Sementara Gunung Ibu memiliki sistem tektonik berbeda akibat adanya double subduction.
Gunung Lewotolok punya keunikan tersendiri karena berada di dekat batas proses subduksi yang telah berakhir. Kondisi itu menyisakan robekan pada lempeng slab yang tersubduksi, sehingga pasokan magma tetap tersedia.
Proses Alam di Dalam Perut Bumi
Dapur magma bekerja layaknya ruangan berongga besar menyerupai spons yang menampung lelehan batuan cair. Kandungan fluida dan uap air di dalamnya memiliki kemiripan dengan cairan bersoda dalam botol tertutup—semakin tinggi tekanan gas, saat jalurnya terbuka maka erupsi terjadi.
Jika suplai magma terhenti dan tidak ada pemicu tektonik, kantong magma mengalami pendinginan perlahan. Mineral tertentu lantas mengkristal secara teratur dan aktivitas vulkanik berhenti dengan sendirinya tanpa letusan.
Faktor eksternal seperti guncangan gempa tektonik juga bisa memicu letusan. Tekanan mendadak membuat tutup kantong magma terlepas, meski sangat dipengaruhi jarak antara sumber gempa dan kantong magma.
Tingkat Aktivitas dan Status Gunung Api
Haris mengungkapkan, tiap gunung menunjukkan kegempaan dasar yang bervariasi. Sebagian aktif tanpa henti, sebagian lain dorman total selama ratusan tahun sebelum bangkit kembali.
Karena variasi inilah pemantauan dilakukan terus-menerus dan diklasifikasikan dalam empat level: Normal, Waspada, Siaga, dan Awas. Status diukur dari seismisitas, deformasi bentuk gunung, pengamatan visual kolom asap, serta data geokimia.
Memahami karakter gunung api menjadi kunci kesiapsiagaan menghadapi dinamika kebumian. Hal ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin ke-11 untuk tata ruang wilayah yang aman dari zona bahaya serta poin ke-15 dalam mendukung pelestarian ekosistem daratan di sekitar gunung api.