MATARAM — Temuan harga MinyaKita yang menembus Rp 23 ribu per liter di Pasar Dasan Agung, Mataram, akhirnya mendapat penjelasan resmi dari Bulog NTB. Perusahaan BUMN pangan itu mengakui bahwa penyaluran MinyaKita saat ini belum menjangkau seluruh pasar karena pasokan yang terbatas.
Manajer Pemasaran Bulog NTB, Kurnia Rahmawati, menyatakan bahwa untuk wilayah Kota Mataram, distribusi MinyaKita difokuskan hanya ke dua titik utama, yaitu Pasar Mandalika dan Pasar Kebon Roek. Sementara untuk daerah lain di NTB, penyaluran menyasar Pasar Gerung, Pasar Renteng Lombok Tengah, serta Pasar Tanjung Lombok Utara.
Mengapa Pasokan MinyaKita Tidak Merata?
Kurnia menjelaskan, keterbatasan ini terjadi karena Bulog tidak menerima seluruh jatah MinyaKita yang dialokasikan untuk BUMN pangan. Dari total alokasi sebesar 35 persen, porsi tersebut masih harus dibagi dengan perusahaan BUMN pangan lainnya seperti RNI dan Rajawali Nusindo.
“Memang untuk MinyaKita, distribusinya masih fokus kepada pasar pencatatan,” kata Kurnia kepada wartawan di Mataram.
Akibat fokus distribusi yang terbatas ini, pedagang di pasar yang tidak masuk dalam daftar prioritas harus mencari pasokan dari pemasok lain. Di Pasar Dasan Agung, para pedagang mengaku membeli MinyaKita dari luar Bulog dengan harga yang jauh lebih mahal, yakni sekitar Rp 225 ribu hingga Rp 235 ribu per dus untuk isi 12 liter.
Harga di Gudang vs Harga di Lapangan: Selisihnya Capai Rp 7 Ribu
Perbedaan mencolok terlihat antara harga dari jalur resmi Bulog dan harga yang beredar di sebagian pasar. Kurnia memastikan bahwa harga pengambilan MinyaKita di gudang Bulog hanya Rp 14.500 per liter.
“Harga pengambilan di gudang Rp14.500, kemudian dijual maksimal oleh pedagang Rp15.700 sesuai HET,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pedagang yang mendapatkan pasokan langsung dari Bulog masih menjual MinyaKita sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). Namun, mekanisme penyaluran dari gudang kepada pengecer ini belum mampu menekan harga di pasar-pasar yang tidak menjadi titik penyaluran langsung.
APPSI Dorong Evaluasi Rantai Distribusi MinyaKita
Kondisi ini kini menjadi perhatian serius Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). Mereka mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap rantai distribusi MinyaKita, terutama yang berada di luar jalur penyaluran langsung Bulog.
Lonjakan harga hingga Rp 23 ribu per liter ini dinilai memberatkan konsumen dan merusak tujuan pemerintah dalam menyediakan minyak goreng murah. Evaluasi diharapkan mampu memangkas rantai distribusi yang panjang sehingga harga di tingkat pedagang bisa kembali sesuai dengan ketentuan HET yang telah ditetapkan pemerintah.