NUSA TENGGARA BARAT — Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa keberhasilan program penghijauan tidak diukur dari banyaknya bibit yang ditanam, melainkan dari tingkat kelangsungan hidup dan perawatan tanaman tersebut. Ia meminta setiap pemerintah daerah (Pemda) menjadikan penghijauan sebagai gerakan kolektif yang berkesinambungan, bukan proyek tahunan yang selesai saat acara penanaman usai.
Perawatan dan Kolaborasi Jadi Kunci Keberlanjutan
Menurut Bima Arya, persoalan klasik yang kerap terjadi di daerah adalah ribuan pohon ditanam pada musim hujan, tetapi mati beberapa bulan kemudian karena tidak ada perawatan. Fenomena ini, katanya, hanya membuang anggaran dan tidak memberi manfaat ekologis ataupun sosial bagi warga.
"Jangan sampai penghijauan hanya menjadi gerakan seremonial. Harus ada mekanisme perawatan yang jelas dan melibatkan banyak pihak, termasuk masyarakat," ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi.
Ia mencontohkan kolaborasi yang dimaksud bisa melibatkan dinas lingkungan hidup, TNI-Polri, sekolah, hingga komunitas pecinta alam. Dengan pembagian peran yang tegas, beban perawatan tidak lagi ditanggung sendirian oleh petugas dinas yang jumlahnya terbatas.
Mengubah Pola Pikir Birokrasi dari Proyek ke Gerakan
Wamendagri menggarisbawahi perlunya perubahan pola pikir birokrasi saat merancang program lingkungan. Alih-alih mengejar target kuantitatif penanaman yang tercantum dalam laporan kinerja tahunan, Pemda didorong menyusun indikator keberhasilan jangka panjang, seperti persentase pohon hidup setelah dua tahun dan luas area hijau yang bertambah.
Ia menilai gerakan berkelanjutan membutuhkan kepemimpinan kepala daerah yang kuat. Tanpa komitmen dari pimpinan tertinggi di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, inovasi perawatan lingkungan kerap mandek di tengah jalan ketika terjadi pergantian pejabat.
Penghijauan yang dikelola dengan serius juga berpotensi menekan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Wilayah dengan tutupan vegetasi yang baik memiliki daya serap air lebih tinggi, sehingga mengurangi limpasan permukaan saat hujan deras.
Dampak Nyata bagi Masyarakat dan Lingkungan
Bima Arya menyebut penghijauan yang terpelihara akan menghasilkan dampak terukur, mulai dari menurunnya suhu permukaan di perkotaan, kualitas udara yang lebih baik, hingga tersedianya ruang publik yang nyaman bagi warga. Ia berharap Pemda mampu memetakan lokasi prioritas penanaman berdasarkan kebutuhan ekologis daerahnya masing-masing.
Ia juga meminta Pemda aktif mengajak generasi muda terlibat dalam kegiatan konservasi. Keterlibatan kampus dan sekolah dinilai penting untuk membangun kesadaran lingkungan sejak dini, sekaligus menciptakan kader-kader pemerhati lingkungan di masa depan.
Tidak ada target spesifik yang disebutkan Bima Arya terkait jumlah pohon atau luas area penghijauan dalam arahan terbarunya. Namun, ia menegaskan seluruh jajaran pemerintah daerah harus segera menyusun rencana aksi lanjutan yang memuat skema pendanaan dan penanggung jawab perawatan di lapangan.