MATARAM — Nelayan dan operator pelayaran di NTB diminta menyesuaikan jadwal melaut menyusul peringatan dini gelombang tinggi yang dirilis BMKG. Potensi gelombang empat hingga enam meter diprakirakan terjadi di Selat Lombok bagian selatan dan Samudra Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara Barat pada 8-9 Agustus 2026.
Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi ZAM Ari Wibianto menjelaskan, tingginya gelombang tersebut dipicu oleh monsun Australia yang aktif sepanjang musim kemarau. Fenomena ini membuat angin timuran bertiup kencang melewati perairan selatan NTB dan membentuk wind waves.
"Monsun Australia yang aktif juga mendukung adanya peningkatan kecepatan angin di sekitar NTB, daratan maupun lautan," ujar Ari saat dikonfirmasi di Mataram, Sabtu.Wilayah yang Perlu Diwaspadai Nelayan
Tidak hanya Selat Lombok bagian selatan, BMKG juga mengingatkan potensi gelombang setinggi 2,5 hingga empat meter di sejumlah titik lain. Wilayah tersebut meliputi Selat Lombok bagian utara, Selat Alas bagian utara dan selatan, perairan selatan Sumbawa, serta Selat Sape bagian selatan.
Ari menegaskan, wilayah selatan NTB menjadi kawasan yang paling perlu mendapat perhatian lebih. Penguatan angin monsun Australia menyebabkan peningkatan kecepatan angin dan potensi gelombang tinggi yang lebih signifikan di area ini.
Bukan Hanya Angin Lokal, Ada Gelombang Rambatan dari Samudra Hindia
Tingginya gelombang di perairan NTB tidak semata-mata terbentuk dari kondisi angin lokal. Ari menjelaskan, gelombang rambatan atau swell dari Samudra Hindia turut berkontribusi memperbesar ketinggian ombak.
Gelombang rambatan tersebut terbentuk akibat sistem angin kuat di wilayah yang jauh di Samudra Hindia, kemudian merambat hingga mencapai perairan Nusa Tenggara Barat. Selain itu, angin timuran yang bertiup secara persisten memiliki fetch atau wilayah laut yang dilalui angin sebelum mencapai suatu wilayah dengan panjang yang mendukung peningkatan tinggi gelombang.
Kondisi Fluktuatif, Tetap Patuhi Imbauan Keselamatan
Kendati potensi gelombang tinggi masih dapat terjadi selama beberapa hari ke depan, Ari menegaskan kondisi ini bersifat fluktuatif dan tidak berlangsung terus-menerus sepanjang musim kemarau. Perubahan pola serta kekuatan angin dan gelombang dari Samudra Hindia menjadi penentu utamanya.
"Kami mengimbau nelayan maupun pelaku pelayaran untuk memperhatikan kondisi angin, gelombang, serta cuaca dan kemudian menyesuaikan rute serta waktu pelayaran dengan kondisi perairan," pungkas Ari.