NUSA TENGGARA BARAT — Kenaikan harga BBM nonsubsidi ini cukup signifikan. Sebelumnya, Pertamax dijual Rp12.300 per liter dan Pertamax Green Rp12.900 per liter. Artinya, dalam sehari, harga Pertamax melonjak Rp3.950 per liter atau naik sekitar 32 persen.
Alasan di Balik Kenaikan Harga Pertamax
Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga ini bukan tanpa dasar. "Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah," ungkapnya, dikutip dari Berita Antara, Rabu (10/6).
Kebijakan ini merupakan bagian dari mekanisme pasar untuk BBM nonsubsidi. Berbeda dengan BBM subsidi seperti Solar dan Pertalite yang harganya dijaga pemerintah, harga Pertamax dan Pertamax Green mengikuti fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.
Dampak Langsung ke Konsumen
Kenaikan ini otomatis membebani pengeluaran masyarakat, terutama pemilik kendaraan yang menggunakan bahan bakar RON 92 ke atas. Untuk pengguna harian, kenaikan Rp3.950 per liter bisa berarti tambahan biaya transportasi yang cukup terasa dalam sebulan.
Pertamina sendiri masih mempertahankan harga BBM bersubsidi, yaitu Solar dan Pertalite, agar daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah tetap terjaga. Namun, pengguna kendaraan yang terbiasa mengisi Pertamax kini harus merogoh kocek lebih dalam.
Kebijakan ini mulai berlaku efektif hari ini di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik Pertamina. Konsumen diimbau untuk menyesuaikan anggaran transportasi atau mempertimbangkan beralih ke BBM bersubsidi jika kendaraannya memungkinkan.