MATARAM — Meski sektor tambang masih mendominasi, Kepala BPS NTB Wahyudin menegaskan bahwa struktur ekonomi daerah kini mulai ditopang oleh sektor riil yang lebih beragam. Hal ini disampaikannya dalam Berita Resmi Statistik (BRS) di Kantor BPS NTB, Mataram, Rabu (5/8/2026).
"Struktur pertumbuhan NTB justru semakin sehat karena sektor-sektor ekonomi riil tetap tumbuh positif dan menjadi penopang utama perekonomian daerah," ujarnya.
Pertumbuhan ekonomi NTB secara triwulanan (quarter to quarter/q-to-q) juga tercatat naik 0,72 persen dibandingkan Triwulan I 2026. Secara kumulatif, ekonomi NTB pada Semester I 2026 tumbuh 10,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sektor Tambang dan Industri Pengolahan Masih Mendominasi
Pertambangan dan penggalian masih menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 30,57 persen. Disusul industri pengolahan yang tumbuh 7,45 persen, pengadaan air dan pengelolaan sampah 6,52 persen, jasa keuangan 5,69 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum 4,86 persen.
Menariknya, jika dilihat dari perbandingan antartriwulan, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum justru mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 11,42 persen. Sektor ini diikuti jasa lainnya 8,90 persen, transportasi dan pergudangan 6,22 persen, administrasi pemerintahan 5,87 persen, serta real estat 2,41 persen.
Kontribusi Pertanian dan PDRB NTB
Secara struktur, pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB dengan kontribusi 21,93 persen. Posisi berikutnya ditempati sektor pertambangan dan penggalian sebesar 20,02 persen, perdagangan besar dan eceran 13,94 persen, serta konstruksi 8,51 persen.
Nilai PDRB NTB pada Triwulan II 2026 atas dasar harga berlaku mencapai Rp53,91 triliun. Sementara itu, atas dasar harga konstan 2010, nilai PDRB tercatat sebesar Rp29,89 triliun.
Tantangan: Pertumbuhan yang Lebih Inklusif
Meski seluruh 17 lapangan usaha mencatat pertumbuhan positif, BPS mengingatkan masih ada pekerjaan rumah besar. Wahyudin menyebut tantangan utama ke depan adalah memperluas lapangan kerja yang berkualitas dan memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dirasakan hingga ke wilayah perdesaan.
"Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga momentum tersebut agar pertumbuhan ekonomi semakin inklusif, berkelanjutan, dan mampu menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat," tandasnya.
Secara kumulatif Semester I 2026, sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 31,18 persen, industri pengolahan 29,67 persen, jasa keuangan 9,56 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum 7,61 persen, perdagangan 7,04 persen, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan 6,27 persen.