MATARAM — Sebanyak 300 eksemplar buku untuk jenjang SMP dan 200 eksemplar untuk SD didistribusikan ke sekolah-sekolah yang masuk kategori intervensi. Widyabasa Ahli Pertama Balai Bahasa NTB, Lentera Nurani, mengatakan pendistribusian ini merupakan bagian dari program pemerintah pusat untuk menjawab stagnasi kualitas literasi yang salah satu pemicunya adalah keterbatasan akses siswa terhadap bahan bacaan.
“Jadi ini salah satu intervensi dari pusat untuk membuat nilai literasi anak-anak meningkat, yaitu dengan memberikan buku bacaan bermutu yang sesuai dengan jenjangnya, sudah dilabeli dengan jenjang kemahiran membaca siswa,” ujarnya kepada Suara NTB, Senin (24/8).
Buku Fiksi Dominan, Penyesuaian Berdasarkan Kemampuan Baca
Buku yang disalurkan merupakan hasil seleksi pusat dengan genre non-teks atau fiksi sebagai yang paling dominan. Pemilihan ini disesuaikan dengan kebutuhan jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama. Total terdapat kurang lebih 100 judul buku, dengan masing-masing judul disediakan dua eksemplar.
Lentera menekankan pemanfaatan buku tidak boleh berpatokan pada usia atau kelas siswa. Justru, kemampuan membaca menjadi tolok ukur utama dalam menentukan jenjang buku yang tepat.
“Karena meskipun kelas 1 SD, bisa jadi jenjang membacanya sudah sama seperti siswa kelas 3 SD begitu. Dan siswa kelas 3 SD mungkin jenjang membacanya masih sama seperti kelas 1 SD, seperti itu,” jelas Lentera.
Distribusi ke Lombok Tuntas, Dompu dan Bima Masih Berproses
Hingga saat ini, pendistribusian untuk sekolah di Pulau Lombok dipastikan telah tersalurkan seluruhnya. Namun, Balai Bahasa NTB masih memantau proses penyaluran ke kabupaten lain seperti Dompu, Bima, dan Kabupaten Bima. Pihaknya akan melaporkan perkembangan ini ke pemerintah pusat agar distribusi segera tuntas sebelum tenggat waktu.
“Jadi masih ada waktu untuk pembagian buku ini memang, gitu. Jadi bukan keterlambatan, tapi memang masih proses. Mungkin karena memang jaraknya yang cukup jauh. Jadi bertahap,” ucapnya.
Guru Dilibatkan dalam Sosialisasi dan Monev
Untuk memastikan buku tidak sekadar tersimpan di gudang, Balai Bahasa NTB menggelar sosialisasi sekaligus monitoring dan evaluasi (Monev) yang diikuti perwakilan sekolah penerima di Mataram. Guru-guru diharapkan mampu memanfaatkan buku secara optimal dalam kegiatan belajar mengajar.
“Kami berharap guru-guru bisa melakukan pemanfaatan,” harap Lentera.
Literasi Digital Jadi Pekerjaan Rumah Berikutnya
Selain akses bacaan, Lentera menyoroti rendahnya pemahaman literasi digital sebagai faktor penghambat lain. Kemampuan menggunakan gawai untuk menunjang pembelajaran dinilai belum merata di kalangan siswa. Akibatnya, sebagian siswa kesulitan menyalurkan pemahaman mereka saat mengikuti ujian literasi berbasis digital.
“Jadi langkah selanjutnya mungkin kami juga akan melaporkan bahwa tidak hanya bahan bacaan bermutu yang mereka butuhkan, tapi akses literasi digital tadi,” terangnya.
Pemerintah melalui Balai Bahasa NTB berkomitmen terus mengevaluasi dampak program ini. Harapannya, intervensi ini mampu menaikkan level literasi siswa di Nusa Tenggara Barat secara signifikan, terutama di jenjang SD dan SMP.
“Sehingga ini menjadi bukti bahwa memang literasi di Nusa Tenggara Barat makin tinggi, terutama di sekolah formal di SD dan SMP begitu,” pungkas Lentera.