NUSA TENGGARA BARAT — Sebanyak 33.961 sambungan rumah jaringan gas bumi di Gresik dan Sidoarjo, Jawa Timur, memasuki tahap persiapan pengaliran setelah pembangunannya rampung. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi masih menyelesaikan penetapan harga jargas bagi rumah tangga dan pelanggan kecil di kedua wilayah itu. Penetapan harga menjadi kunci agar masyarakat bisa menikmati gas bumi dengan tarif yang lebih murah dibandingkan LPG tiga kilogram.
Gresik dan Sidoarjo menjadi dua kabupaten di Jawa Timur yang paling siap mengoperasikan jaringan gas bumi rumah tangga hasil pembangunan APBN. Dari total 33.961 sambungan rumah yang sudah terpasang, 29.961 SR berada di Sidoarjo dan 4.000 SR di Gresik. Kedua wilayah itu kini menunggu satu langkah terakhir: penetapan harga jargas oleh BPH Migas.
Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menegaskan, persiapan pengoperasian jargas merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan swasembada energi dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor. "Hari ini kami hadir untuk memastikan kesiapan pengoperasian jargas yang dibangun melalui APBN," kata Dudung, dikutip dari laman BPH Migas.
BPH Migas telah menggelar forum diskusi terbuka atau public hearing bersama pemangku kepentingan sebagai bagian dari proses penetapan harga. Anggota Komite BPH Migas Arief Wardono menyebut, proses itu dilanjutkan dengan kunjungan lapangan untuk melihat kesiapan pengaliran dan pemanfaatan jargas oleh warga.
"Kunjungan ke jargas Sidoarjo dan Jargas Gresik dalam rangka persiapan pengaliran. BPH Migas telah melakukan public hearing untuk penetapan harga kedua jargas tersebut," ujar Arief. Ia berharap harga jargas bisa segera ditetapkan dan langsung dinikmati masyarakat.
Dalam menetapkan harga jargas untuk rumah tangga dan pelanggan kecil, BPH Migas mempertimbangkan dua hal sekaligus: nilai keekonomian badan usaha dan daya beli masyarakat. Dua faktor itu yang membuat proses penetapan harga tidak bisa dilakukan sembarangan.
Meski penetapan harga resmi belum rampung, warga Sidoarjo dan Gresik sebenarnya sudah menikmati manfaat jargas. Menurut Arief, harga yang mereka bayar selama ini cukup baik dibandingkan penggunaan LPG tiga kilogram.
"Selama ini masyarakat Sidoarjo dan masyarakat Gresik telah mendapat manfaat dari jargas dan juga menikmati dengan harga yang cukup baik dibandingkan penggunaan LPG tiga kilogram," tuturnya.
Bagi rumah tangga, selisih harga itu terasa langsung di kantong. Pengeluaran untuk memasak menjadi lebih stabil karena gas bumi disalurkan lewat pipa, bukan lagi bergantung pada tabung LPG yang harganya naik-turun dan kerap langka di pasaran.
Pemerintah menargetkan pembangunan 1 juta sambungan jargas hingga 2028 sebagai bagian dari upaya menuju swasembada energi nasional. Jargas sendiri masuk dalam daftar program prioritas nasional di bidang ketahanan energi.
Untuk pembangunan yang dibiayai APBN 2025-2026, targetnya mencapai 119.379 sambungan rumah yang tersebar di 15 kabupaten/kota. Jawa Timur menyumbang porsi terbesar yang sudah terpakai, dengan 33.961 SR yang terdiri atas 4.000 SR di Gresik dan 29.961 SR di Sidoarjo.
Angka itu menempatkan Jawa Timur sebagai salah satu wilayah paling maju dalam pemanfaatan jargas rumah tangga. Jika penetapan harga BPH Migas keluar dalam waktu dekat, pengaliran penuh di kedua kabupaten bisa segera berjalan dan menambah jumlah rumah tangga yang beralih dari LPG ke gas pipa.
Bagi pemerintah, percepatan jargas bukan hanya soal kenyamanan rumah tangga. Setiap sambungan yang aktif mengurangi volume impor LPG, yang selama ini menjadi beban neraca perdagangan dan subsidi energi. Itulah alasan target 1 juta sambungan pada 2028 dipasang sebagai bagian dari peta jalan swasembada energi.