MATARAM — BRIDA NTB bergerak cepat mengejar ketertinggalan inovasi digital yang selama ini belum dimanfaatkan optimal untuk nilai tambah ekonomi daerah. Kemitraan dengan Smart ID menjadi salah satu strategi untuk memastikan hasil riset tidak berhenti sebagai dokumen, melainkan berdampak langsung ke masyarakat.
Ruang lingkup kemitraan ini mencakup empat bidang utama: pendampingan riset, penyusunan dokumen strategis, pengembangan inovasi daerah, dan peningkatan kapasitas SDM. Smart ID, melalui layanan Smart Consulting, siap menyediakan tenaga ahli untuk mengawal proses penyusunan kajian hingga tahap final.
Selain itu, Smart ID juga menawarkan layanan telaah dokumen dan penyediaan narasumber kompeten untuk kegiatan ilmiah. Tujuannya membantu pemerintah daerah menghasilkan kebijakan berbasis data (data-driven policy) yang menyentuh warga secara langsung.
Kepala BRIDA Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi, menegaskan bahwa masih banyak inovasi digital yang belum dimanfaatkan secara maksimal. "Saat ini masih terdapat berbagai inovasi, khususnya inovasi digital, yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk memberikan nilai tambah ekonomi," ujarnya.
Ia menambahkan, BRIDA mendorong penguatan ekosistem inovasi mulai dari pendampingan, implementasi teknologi, hilirisasi hasil riset, hingga komersialisasi produk inovasi. Kebijakan ini mengacu pada RPJMD dan Roadmap Pemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Provinsi NTB, sejalan dengan konsep "Riset dan Inovasi Berdampak" dari BRIN.
Sejak 2025, BRIDA NTB telah bertransformasi dari organisasi yang didominasi jabatan struktural menjadi organisasi berbasis jabatan fungsional. Langkah ini dinilai lebih fleksibel dan sesuai kebutuhan riset terapan.
"Dengan terbentuknya Pokja Workshop dan Pusat Sains Iptek, kami ingin mendorong inovasi yang tidak berhenti pada konsep. Kami ingin inovasi ini mampu diterapkan di lapangan dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat," kata Gede Putu Aryadi.
BRIDA NTB juga memperluas kerja sama dengan sektor akademis, yakni Universitas Mataram (Unram) dan UIN Mataram. Kolaborasi ini bertujuan agar hasil penelitian perguruan tinggi bisa langsung diimplementasikan sesuai kebutuhan pembangunan daerah.
Pokja Inovasi Hilirisasi dan Kemitraan BRIDA NTB melaporkan, sebagian besar data inovasi daerah—termasuk data perizinan dan profil daerah—telah dihimpun untuk memenuhi indikator pemerintah pusat. Namun, mereka menyambut baik pendampingan dari Smart ID untuk berbagi praktik terbaik (best practices) dalam penguatan inovasi di NTB.
Melalui pertemuan ini, BRIDA NTB dan Smart ID sepakat membuka ruang kolaborasi berkelanjutan. Langkah selanjutnya adalah menjadwalkan pendampingan teknis dan konsultasi untuk mempercepat implementasi inovasi di daerah.