NUSA TENGGARA BARAT — KAI mencatat, sepanjang semester I 2026, Stasiun Karet melayani 7.257.442 aktivitas gate in dan gate out. Sementara Stasiun BNI City melayani 2.688.254 aktivitas penumpang. Totalnya, hampir 10 juta pergerakan orang terjadi di dua stasiun yang jaraknya hanya beberapa ratus meter itu.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, kedekatan kedua stasiun justru menimbulkan persoalan operasional dan keselamatan. Aktivitas naik-turun penumpang, pengantaran, ojek pangkalan, hingga ojek daring bercampur di area yang sama.
"Kami ingin menyelesaikan persoalan ini dengan pendekatan yang solutif. Pelanggan membutuhkan akses yang mudah, masyarakat sekitar membutuhkan kepastian ruang, dan operasi kereta api membutuhkan alur yang aman. Integrasi ini harus menjawab ketiganya," kata Bobby dalam keterangan resmi, Selasa (14/7/2026).
Setelah integrasi selesai, area Stasiun Karet akan diubah menjadi concourse atau ruang penghubung menuju Stasiun BNI City. Aktivitas gate in dan gate out penumpang akan dipusatkan di Stasiun BNI City. Kawasan Stasiun Karet tetap difungsikan sebagai akses pendukung, namun dengan penataan yang lebih rapi.
KAI juga akan membangun travelator berpendingin udara untuk memudahkan perpindahan penumpang di antara kedua stasiun. Fasilitas ini diharapkan membuat perjalanan lebih nyaman, terutama di tengah cuaca panas atau hujan.
Proses integrasi dilakukan secara bertahap. Bobby menegaskan, pihaknya mengedepankan prinsip kehati-hatian karena Stasiun Karet telah menjadi bagian dari aktivitas harian masyarakat.
Integrasi ini juga memperkuat peran Stasiun BNI City sebagai titik layanan Commuter Line Basoetta. Pada semester I 2026, layanan kereta bandara itu melayani 1.197.413 penumpang, naik 12,71 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 1.062.415 penumpang.
Dengan adanya integrasi, penumpang dari arah Stasiun Karet bisa langsung menuju BNI City untuk melanjutkan perjalanan ke Bandara Soekarno-Hatta melalui jalur yang lebih tertata. KAI akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengatur jalur pejalan kaki, area antar-jemput, hingga lokasi ojek daring dan ojek pangkalan.
Selama masa transisi menuju September 2026, KAI menyiapkan petunjuk arah, petugas layanan, dan sosialisasi agar perubahan pola perjalanan pelanggan berlangsung lancar. "Penataannya harus dilakukan dengan baik, bertahap, dan tetap mendengar masukan," ujar Bobby.