7 Tempat Baca dan Toko Buku Paling Nyaman di Nusa Tenggara Barat, dari Koleksi Langka hingga Sudut Literasi Tersembunyi

Penulis: Sigit Wicaksono  •  Minggu, 05 Juli 2026 | 23:11:31 WIB
Pustaka Lombok menyediakan ruang baca nyaman dengan koleksi budaya Sasak di tengah Kota Mataram.

Lombok dan Sumbawa memang terkenal dengan ombak dan panorama savana. Tapi bagi yang tinggal atau sedang melintas di Nusa Tenggara Barat, mencari ruang baca yang teduh kadang terasa seperti mencari sumur di padang pasir. Kafe-kafe ramai, suara knalpot, dan terik siang membuat aktivitas membaca atau sekadar membeli buku bekas menjadi tantangan tersendiri.

Berbekal pengalaman bolak-balik dari Cakranegara hingga Ampenan, saya menemukan beberapa tempat yang layak disebut sebagai surga kecil bagi pecinta literasi. Bukan sekadar rak buku, tapi tempat di mana waktu terasa melambat. Berikut tujuh di antaranya.

1. Pustaka Lombok — Perpustakaan Komunitas di Tengah Kota Mataram

Terletak di Jalan Pejanggik, tepat di belakang kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, Pustaka Lombok bukan perpustakaan biasa. Tempat ini dikelola komunitas literasi lokal sejak 2019. Koleksinya campuran: buku baru sumbangan penerbit, novel bekas, hingga risalah-risalah kecil tentang budaya Sasak.

Tidak ada biaya masuk. Cukup isi buku tamu. Buka dari pukul 09.00 hingga 17.00 WITA, tapi sering tutup lebih awal kalau Jumat. Tempat duduknya lesehan dengan bantal-bantal batik. Saya biasa datang Kamis sore, sepi, AC dingin, dan sinar matahari masuk lewat jendela kaca besar. Cocok untuk baca novel tipis sambil minum kopi instan yang disediakan gratis.

2. Toko Buku Tiga Serangkai Cabang Mataram — Pilihan Terlengkap untuk Buku Baru

Di Jalan Airlangga, pertigaan Pagesangan, toko buku ini jadi andalan pelajar dan mahasiswa. Bukan toko indie, tapi stoknya paling update untuk buku pelajaran, fiksi terjemahan, dan novel-novel bestseller. Dua lantai, lantai bawah penuh alat tulis dan buku anak, lantai atas khusus buku dewasa.

Harga standar penerbit, diskon 10-20 persen setiap akhir bulan. Saya pernah beli novel terjemahan Jepang di sini dengan harga Rp85.000, lebih murah Rp15.000 dari harga sampul. Buka setiap hari pukul 08.00-21.00. Parkir motor agak sempit, lebih baik bawa kendaraan kecil atau jalan kaki kalau mondok di sekitar Pagesangan.

3. Ruang Baca Taman Sangkareang — Perpustakaan Terbuka di Pusat Kota

Taman Sangkareang di Mataram bukan cuma tempat nongkrong malam Minggu. Di sudut timur taman, ada rak-rak buku terbuka yang dikelola Dinas Perpustakaan. Koleksinya tidak banyak, sekitar 200 eksemplar, tapi ada koran lokal dan majalah bekas. Tempat duduknya bangku taman beratap seng.

Saya pernah duduk di sini Selasa pagi jam 10, angin sepoi, ditemani suara air mancur. Tidak ada petugas khusus, buku bisa dibaca di tempat. Kalau mau pinjam, harus ke kantor dinas yang jaraknya 200 meter. Cocok untuk yang butuh tempat baca outdoor tanpa biaya.

4. Toko Buku Bekas Ampenan — Surga Buku Lawak dan Novel Lawas

Di kawasan Ampenan, tepatnya di Jalan Yos Sudarso, ada deretan toko buku bekas yang sudah beroperasi sejak era 1980-an. Toko-toko ini tidak punya nama, hanya papan kayu bertuliskan "Buku Bekas". Koleksinya acak: dari buku pelajaran SD era 90-an, novel-novel Hilman Hariwijaya, hingga komik lama.

Harga mulai Rp5.000 untuk buku tipis, Rp20.000 untuk novel tebal. Saya pernah menemukan cetakan pertama "Laskar Pelangi" di sini, dijual Rp35.000. Toko buka dari jam 08.00 sampai azan Magrib. Hari Minggu banyak yang tutup. Tips: bawa uang tunai, karena sebagian besar toko tidak terima QRIS.

5. Perpustakaan Daerah Kabupaten Lombok Barat — Ruang Baca Sepi dengan Pendingin Udara

Di Gerung, sekitar 15 menit dari Mataram, perpustakaan ini jarang dikunjungi wisatawan. Gedungnya dua lantai, lantai dasar untuk anak-anak, lantai atas untuk umum. Koleksinya cukup lengkap untuk buku sejarah NTB dan laporan pemerintah daerah. Saya membaca buku "Sejarah Lombok" karya Henri Chambert-Loir di sini, satu-satunya tempat yang punya salinan fisik.

Buka Senin sampai Jumat pukul 08.00-16.00. Tidak perlu kartu anggota untuk baca di tempat. Parkir luas. Paling sepi jam 12-14, pas waktu istirahat pegawai. Suasana hening, kadang hanya terdengar suara kipas angin.

6. Taman Baca Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Lombok Timur

Di Desa Kotaraja, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, TBM Lentera Pustaka didirikan oleh seorang guru SD pada 2017. Tempatnya sederhana: bangunan panggung kayu di tengah sawah. Koleksinya sekitar 1.000 buku, kebanyakan donasi. Saya ke sini November lalu, ditemani suara jangkrik dan angin sawah.

Tidak ada biaya. Buka setiap hari, tapi lebih baik datang pagi atau sore karena siang sangat terik. Dari pusat Kota Mataram, perjalanan sekitar 1,5 jam naik motor. Akses jalannya bagus, tapi tikungan tajam. Cocok untuk yang ingin merasakan suasana baca di pedesaan.

7. Sudut Baca Pelabuhan Lembar — Tempat Nunggu Kapal yang Tidak Membosankan

Di terminal penumpang Pelabuhan Lembar, ada rak buku kecil yang disediakan pengelola pelabuhan sejak 2022. Koleksinya terbatas: majalah, komik, dan novel-novel ringan. Saya pernah baca "5 cm" sambil nunggu kapal ke Bali. Tempat duduknya kursi plastik, tidak nyaman untuk baca lama, tapi cukup mengusir kebosanan.

Gratis, buku tidak boleh dibawa pulang. Buka 24 jam, karena pelabuhan beroperasi nonstop. Kalau kapal delay, sudut ini bisa jadi pilihan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah ada toko buku yang buka hari Minggu di Mataram?
Toko Buku Tiga Serangkai cabang Mataram buka hari Minggu mulai pukul 09.00-18.00. Toko buku bekas di Ampenan biasanya tutup.

Berapa rata-rata harga buku bekas di Ampenan?
Mulai Rp5.000 untuk buku tipis, Rp15.000-Rp30.000 untuk novel tebal. Buku langka atau cetakan lama bisa lebih mahal.

Apakah perpustakaan di NTB menyediakan akses internet?
Perpustakaan Daerah Lombok Barat dan Pustaka Lombok menyediakan Wi-Fi gratis. Kecepatan cukup untuk browsing, tidak untuk streaming.

Bisakah saya meminjam buku dari Pustaka Lombok?
Bisa, dengan syarat menjadi anggota dan meninggalkan KTP. Masa pinjam 7 hari, bisa diperpanjang sekali.

Tempat baca mana yang paling sepi untuk bekerja?
Perpustakaan Daerah Lombok Barat. Pengunjung sangat sedikit, listrik stabil, dan AC dingin.

Membaca di NTB tidak perlu selalu di kafe mahal. Antara teduhnya TBM di Lombok Timur dan rak buku lapuk di Ampenan, ada pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh layar ponsel. Selamat berburu buku.

Reporter: Sigit Wicaksono
Back to top