NUSA TENGGARA BARAT — Janice Tjen dan Storm Hunter memastikan tempat di final Japan Open 2026 setelah menaklukkan Isabelle Haverlag/Lilli Tagger lewat pertarungan tiga set di Utsubo Tennis Center, Osaka. Kemenangan dramatis ini membuka peluang gelar WTA 250 pertama bagi petenis Indonesia berusia 24 tahun itu tahun ini.
Duo Janice/Storm menang dengan skor 6-2, 2-7, 10-8 dalam laga semifinal yang berlangsung Jumat (23/10). Pertandingan berjalan tiga set penuh dan harus diselesaikan lewat match tie break sebelum pasangan itu keluar sebagai pemenang.
Dominasi di Set Pertama Berkat Servis Lawan yang Rapuh
Janice/Storm menguasai set pembuka tanpa banyak hambatan. Rentetan kesalahan servis dari kubu Isabelle/Lilli memberi poin cuma-cuma, dan pasangan Indonesia-Australia itu menutup set dengan 6-2.
Isabelle/Lilli bangkit di set kedua. Kedua pasangan saling kejar angka, tetapi kubu lawan berhasil mengunci set ini 7-5 dan memaksa pertandingan berlanjut ke set penentuan.
Match Tie Break 10-8: Janice/Storm Lebih Tenang di Poin Akhir
Set ketiga berjalan ketat. Kedua pihak sama-sama kehilangan poin akibat kesalahan servis, dan duel penuh tensi terjadi hingga poin-poin terakhir.
Janice/Storm tampil lebih impresif menjelang akhir. Mereka menutup match tie break dengan 10-8 dan memastikan tiket ke partai puncak.
Hadangan Pasangan Ceko di Final
Di final, Janice/Storm akan menghadapi pasangan Ceko, Jesika Male?ková/Miriam Škoch, pada Sabtu (24/10). Penyelenggara belum mengumumkan jadwal rinci pertandingan tersebut.
Laga ini menjadi kesempatan bagi Janice untuk meraih gelar WTA 250 pertamanya tahun ini. Sebelumnya, ia baru menjuarai turnamen level WTA 125 pada Birmingham Classic 2026.
Jalur Janice Menuju Puncak
Pencapaian di Osaka menambah catatan positif bagi Janice sepanjang musim ini. Dari level WTA 125 di Birmingham, ia kini menembus final turnamen WTA 250 bersama Storm Hunter.
Kemenangan atas Isabelle/Lilli menunjukkan ketahanan mental Janice/Storm di laga-laga ketat. Dua set pertama berlangsung berbeda karakter, tetapi pasangan itu tetap mampu mengendalikan match tie break saat tekanan paling tinggi.