Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, kembali menemukan denyut kehidupannya setelah tragedi kebakaran yang meluluhlantakkan kawasan adat tersebut. Pendataan mencatat, sebanyak 75 rumah adat, delapan berugak, enam sekenam, satu masjid, dua toilet, dan 69 artshop hangus dilalap si jago merah. Kini, proses penyembuhan dimulai. Pemerintah memastikan pembangunan kembali akan dieksekusi secara bertahap, menyesuaikan perencanaan yang matang dan kemampuan sumber daya yang ada.
Nyemulak: Merajut Asa dari Tiang Pertama
Prosesi Nyemulak menjadi simbol dimulainya proses pembangunan. bagi masyarakat Sasak Rembitan, ritual ini bukanlah seremonial semata. Lebih dari itu, Nyemulak adalah wujud ikhtiar kolektif, penghormatan mendalam pada nilai leluhur, serta untaian doa agar bangunan dan kehidupan di dalamnya senantiasa dilimpahi keselamatan.
Koordinator Rekonstruksi Rumah Adat Sade, H. Lalu Muh. Faozal, menjelaskan pelaksanaan ritual tersebut telah melalui musyawarah mufakat warga. “Hari ini merupakan hari baik yang telah disepakati bersama untuk pemasangan tiang pancang pembangunan Masjid dan Rumah Adat Sade,” ujarnya.
Gubernur NTB: Lebih dari Sekadar Bangunan Fisik
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, yang hadir langsung dalam prosesi, menegaskan komitmennya. Ia menyatakan rekonstruksi ini memiliki visi lebih besar daripada memulihkan infrastruktur yang rusak.
“Yang terpenting, kita tidak hanya membangun secara fisik, tetapi juga menghidupkan kembali cerita, sejarah, budaya, dan denyut kehidupan yang selama ini menjadi daya tarik utama Sade bagi wisatawan,” ungkap Iqbal. “Wisatawan datang untuk mendapatkan cerita dan pengalaman, dan itu dimulai dari keaslian budaya yang kita jaga dalam setiap proses pembangunan ini.”