NUSA TENGGARA BARAT — Serangan udara tersebut menargetkan fasilitas vital yang menjadi salah satu tulang punggung produksi minyak Arab Saudi. Kantor berita resmi Houthi, Saba, menyatakan bahwa operasi ini diluncurkan dengan armada drone tempur sebagai jawaban atas pelanggaran wilayah udara Yaman oleh jet tempur koalisi pimpinan Saudi.
Eskalasi di Laut Merah dan Ancaman ke Pasokan Minyak
Konflik yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade di Yaman ini kini memasuki fase baru yang lebih berbahaya. Setelah membatalkan gencatan senjata pada Juli lalu, Houthi langsung mengumumkan blokade maritim terhadap kapal tanker Saudi yang melintasi Laut Merah. Jalur pelayaran ini dikenal sebagai salah satu rute tersibuk untuk distribusi minyak dan gas dunia.
Ketegangan meningkat setelah pendaratan pesawat militer Iran di Sanaa bulan lalu memicu serangan balasan dari koalisi Saudi. Houthi yang mendapat dukungan penuh dari Teheran kemudian mengalihkan sasaran dari kapal dagang ke instalasi produksi minyak Riyadh secara langsung.
Dampak Beruntun bagi Ekonomi dan Pasar Energi
Serangan ke kilang Aramco ini terjadi bersamaan dengan blokade ketat yang diterapkan Iran di Selat Hormuz. Kombinasi dua gangguan di jalur pasokan energi utama dunia ini memicu kekhawatiran serius akan kelangkaan pasokan. Para analis memperkirakan situasi ini dapat mendorong lonjakan harga minyak mentah global dalam waktu dekat.
Bagi Indonesia, gejolak ini menjadi sinyal waspada. Kenaikan harga minyak dunia otomatis akan membebani impor energi dalam negeri dan berpotensi menekan nilai tukar rupiah. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak lanjutan terhadap harga BBM dan inflasi jika konflik berkepanjangan.
Konfrontasi antara Washington, Riyadh, dan Teheran yang semakin panas membuat kawasan ini berada di ambang perang terbuka. Situasi keamanan di Timur Tengah yang tidak menentu menjadi risiko terbesar bagi pemulihan ekonomi global yang masih rapuh.