NUSA TENGGARA BARAT — Ekonom Senior INDEF, Didik J Rachbini, mengingatkan bahwa belanja pemerintah hanya berperan sebagai penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak jatuh di bawah level 5%. Dalam jangka panjang, mesin fiskal ini dinilai tidak akan mampu mendorong ekonomi ke level yang lebih tinggi.
"Selama ini belanja pemerintah tidak akan langgeng karena hanya menjadi penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak jatuh di bawah 5 persen. Apalagi fiskal juga punya masalah dari sisi penerimaan maupun pengeluaran," ujar Didik dalam pernyataannya, Minggu (9/8/2026).
Komposisi Pertumbuhan: Ketergantungan pada Fiskal Semakin Nyata
Data resmi pemerintah menunjukkan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,29% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II 2026. Angka ini masih di atas batas psikologis 5%, namun struktur pendorongnya timpang.
Konsumsi pemerintah menjadi penopang utama dengan pertumbuhan fantastis hingga 15,97%. Angka ini jauh melampaui komponen lainnya yang hanya tumbuh satu digit.
- Belanja Pemerintah: tumbuh 15,97% (satu-satunya pos dua digit)
- Investasi (PMTB): tumbuh 6,87%
- Konsumsi Rumah Tangga: tumbuh 5,06%
- Ekspor: tumbuh 4,13% (paling lambat)
Keterbatasan Fiskal: Penerimaan vs Pengeluaran
Didik menegaskan bahwa mengandalkan belanja negara sebagai pendorong utama memiliki risiko besar. Masalah struktural di sisi penerimaan negara dan efisiensi pengeluaran menjadi ganjalan yang membuat kebijakan ini tidak berkelanjutan.
Jika fiskal tidak lagi mampu berekspansi, sementara ekspor masih lesu di angka 4,13%, maka ruang pertumbuhan ekonomi pada kuartal-kuartal berikutnya akan semakin sempit. Sektor riil pun berpotensi merasakan dampaknya melalui melambatnya permintaan domestik.
Investasi dan Konsumsi: Kunci Percepatan Ekonomi Berikutnya
Dengan keterbatasan ruang fiskal tersebut, perhatian kini tertuju pada dua mesin pertumbuhan lainnya. Investasi yang tumbuh 6,87% dan konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,06% dinilai masih belum cukup kuat untuk menggantikan peran belanja pemerintah sebagai motor utama.
Untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan, perbaikan iklim investasi serta daya beli masyarakat menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda lagi. Tanpa pergeseran ini, ekonomi berisiko stagnan di kisaran 5% dalam jangka menengah.