Pencarian

Belanja Pemerintah Tumbuh 15,97% di Kuartal II 2026, Ekonom INDEF: Bukan Mesin Pertumbuhan Jangka Panjang

Senin, 10 Agustus 2026 • 10:42:02 WIB
Belanja Pemerintah Tumbuh 15,97% di Kuartal II 2026, Ekonom INDEF: Bukan Mesin Pertumbuhan Jangka Panjang
Ekonom Senior INDEF Didik J Rachbini menyampaikan pandangannya mengenai pertumbuhan belanja pemerintah pada kuartal II 2026.

NUSA TENGGARA BARAT — Ekonom Senior INDEF, Didik J Rachbini, mengingatkan bahwa belanja pemerintah hanya berperan sebagai penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak jatuh di bawah level 5%. Dalam jangka panjang, mesin fiskal ini dinilai tidak akan mampu mendorong ekonomi ke level yang lebih tinggi.

"Selama ini belanja pemerintah tidak akan langgeng karena hanya menjadi penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak jatuh di bawah 5 persen. Apalagi fiskal juga punya masalah dari sisi penerimaan maupun pengeluaran," ujar Didik dalam pernyataannya, Minggu (9/8/2026).

Komposisi Pertumbuhan: Ketergantungan pada Fiskal Semakin Nyata

Data resmi pemerintah menunjukkan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,29% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II 2026. Angka ini masih di atas batas psikologis 5%, namun struktur pendorongnya timpang.

Konsumsi pemerintah menjadi penopang utama dengan pertumbuhan fantastis hingga 15,97%. Angka ini jauh melampaui komponen lainnya yang hanya tumbuh satu digit.

  • Belanja Pemerintah: tumbuh 15,97% (satu-satunya pos dua digit)
  • Investasi (PMTB): tumbuh 6,87%
  • Konsumsi Rumah Tangga: tumbuh 5,06%
  • Ekspor: tumbuh 4,13% (paling lambat)

Keterbatasan Fiskal: Penerimaan vs Pengeluaran

Didik menegaskan bahwa mengandalkan belanja negara sebagai pendorong utama memiliki risiko besar. Masalah struktural di sisi penerimaan negara dan efisiensi pengeluaran menjadi ganjalan yang membuat kebijakan ini tidak berkelanjutan.

Jika fiskal tidak lagi mampu berekspansi, sementara ekspor masih lesu di angka 4,13%, maka ruang pertumbuhan ekonomi pada kuartal-kuartal berikutnya akan semakin sempit. Sektor riil pun berpotensi merasakan dampaknya melalui melambatnya permintaan domestik.

Investasi dan Konsumsi: Kunci Percepatan Ekonomi Berikutnya

Dengan keterbatasan ruang fiskal tersebut, perhatian kini tertuju pada dua mesin pertumbuhan lainnya. Investasi yang tumbuh 6,87% dan konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,06% dinilai masih belum cukup kuat untuk menggantikan peran belanja pemerintah sebagai motor utama.

Untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan, perbaikan iklim investasi serta daya beli masyarakat menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda lagi. Tanpa pergeseran ini, ekonomi berisiko stagnan di kisaran 5% dalam jangka menengah.

Follow lensasumbawa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks