NUSA TENGGARA BARAT — Setiap orang tua pasti bangga melihat buah hatinya tumbuh. Namun, bagaimana jika kebanggaan itu berubah menjadi beban karena si kecil terus-menerus dibandingkan dengan sosok tertentu, termasuk dengan kita sendiri? Inilah yang dialami oleh putri supermodel era 90-an, Cindy Crawford.
Bukan Sekadar Kemiripan Fisik
Kaia Gerber, yang kini beranjak dewasa, sering kali disebut-sebut sebagai salinan sang ibu. Pemberitaan Wolipop pada Jumat (7/8/2026) menyebutkan bahwa publik semakin ramai membandingkannya dengan Cindy Crawford karena dianggap makin mirip.
Fenomena ini bukan hanya soal penampilan. Di balik label "fotokopi Cindy Crawford", ada seorang individu bernama Kaia yang sedang mencari jati dirinya sendiri. Ia adalah model profesional yang bekerja keras membangun kariernya, bukan sekadar bayangan sang ibu.
Dampak Perbandingan pada Mental Anak
Sebagai orang tua, kita perlu peka. Membandingkan anak, baik dengan saudara, teman, atau bahkan dengan diri kita sendiri, bisa menanamkan benih keraguan pada diri anak. Mereka bisa merasa tidak pernah cukup baik atau kehilangan identitas unik mereka.
Anak yang terus dibandingkan berisiko tumbuh dengan stres dan tekanan untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Padahal, setiap anak punya kelebihan dan jalannya masing-masing. Tugas kita adalah memupuk kepercayaan diri mereka, bukan membandingkannya dengan standar orang lain.
Strategi Mengasuh Tanpa Perbandingan
Lantas, bagaimana cara menghindari jebakan ini? Mulailah dengan fokus pada usaha dan proses anak, bukan hasil akhirnya. Misalnya, apresiasi kegigihannya berlatih, bukan hanya nilai rapornya.
Berikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi minatnya sendiri. Dukunglah hobinya meski berbeda dari kesukaan kita. Dengan begitu, ia belajar bahwa dirinya dihargai apa adanya, bukan karena kemiripannya dengan siapa pun.
Hal terpenting lainnya adalah menjaga komunikasi. Dengarkan perasaan anak jika ia merasa terbebani oleh komentar orang lain. Validasi perasaannya dan yakinkan ia bahwa cinta kita tidak bersyarat, terlepas dari apa kata orang tentang dirinya.
Menumbuhkan Identitas Anak di Era Media Sosial
Di zaman serba digital ini, komentar publik seperti yang dialami Kaia bisa sangat cepat menyebar. Anak-anak kita pun bisa saja menghadapi situasi serupa di lingkungan sekolah atau media sosial mereka.
Ajarkan anak untuk menyaring komentar yang membangun dan mengabaikan yang tidak perlu. Lebih penting lagi, bantu ia menemukan "suara" dan pendapatnya sendiri. Anak yang percaya diri tidak akan mudah goyah oleh opini orang lain karena ia tahu siapa dirinya.
Kisah Kaia Gerber bisa menjadi pengingat bagi kita semua. Di balik sorotan kamera dan pujian atas kemiripannya, ada proses panjang untuk menjadi dirinya sendiri. Tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan anak-anak kita merasa aman dan bebas untuk menulis cerita hidup mereka sendiri, tanpa harus menjadi salinan dari siapa pun.
Intinya, setiap anak adalah karya original yang unik. Alih-alih menjadikan mereka fotokopi dari orang tua atau orang lain, mari kita dukung mereka untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri. Itulah hadiah terbesar yang bisa kita berikan.