Pencarian

Akademisi Unram: Penanganan Sampah di Mataram Butuh Kajian Holistik, Bukan Sekadar Teknologi

Jumat, 15 Mei 2026 • 16:28:01 WIB
Akademisi Unram: Penanganan Sampah di Mataram Butuh Kajian Holistik, Bukan Sekadar Teknologi
Dosen Unram tekankan pentingnya kajian holistik dalam penanganan sampah di Mataram.

MATARAM — Persoalan sampah di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat ini tak cukup diselesaikan dengan pengadaan mesin atau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) semata. Dosen Ilmu Lingkungan Unram, Ernawati, menyebut setiap program pengelolaan sampah mesti melalui studi kelayakan yang matang dari berbagai sisi.

“Setiap program perlu kajian lengkapnya. Misalnya dari kajian secara teknisnya, kajian lingkungannya, kemudian ekonomi, dan sosialnya,” jelas Ernawati kepada NTBSatu, Rabu (13/5/2026).

Mengubah Kebiasaan Lebih Sulit dari Mengadakan Teknologi

Menurut Ernawati, titik krusial dalam kajian holistik itu justru berada di aspek sosial, tepatnya pada perilaku masyarakat. Mengubah kebiasaan warga memilah sampah dari rumah dinilainya sebagai tantangan yang jauh lebih besar ketimbang menyediakan peralatan modern.

“Kalau penyediaan teknologi, mungkin dari pemerintah, jika dana ada, pasti disediakan. Cuman dari SDM-nya (Sumber Daya Manusia) juga bagaimana menjaga,” imbuhnya.

Ia menambahkan, tanpa pemetaan partisipasi dan kesadaran masyarakat, program apa pun berpotensi hanya berjalan di awal lalu meredup. “Karena mengajak partisipasi, meningkatkan kesadaran masyarakat untuk ikut partisipasi dalam prosesnya,” ucap Ernawati.

Kolaborasi Tiga Sektor: Pemerintah, Akademisi, dan Warga

Ernawati mendorong optimalisasi program melalui kolaborasi multisektor. Ia merinci peran masing-masing pihak agar penanganan sampah berlangsung berkelanjutan, bukan sekadar proyek musiman.

“Pemerintah sebagai fasilitator, akademisi, mahasiswa, dan yang praktisi sebagai pendamping pelaksanaan program agar terus berkelanjutan. Jadi tidak hanya panas di awal, baru masyarakat sebagai ujung tombaknya,” tuturnya.

Di tingkat hulu, Ernawati mendorong warga melakukan pemilahan dan pengolahan sampah sederhana di rumah masing-masing. Sisa residu yang tak bisa ditangani rumah tangga, seperti limbah plastik tertentu, akan diolah lebih lanjut di TPST milik pemerintah.

“Di hilirnya, limbah yang tidak bisa diolah langsung oleh masyarakat rumah tangga, kita optimalisasi mungkin dengan TPST,” pungkas Ernawati.

Bagikan
Sumber: ntbsatu.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks