PT Pertamina (Persero) resmi menjajaki kolaborasi strategis dengan penyedia jasa energi global SLB guna memacu lifting migas di berbagai blok produksi perusahaan. Kemitraan ini bertujuan mengoptimalkan potensi cadangan migas nasional sekaligus menekan biaya operasional melalui implementasi teknologi hulu terbaru. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya besar perseroan dalam menjaga ketahanan energi nasional dan mengejar target produksi minyak 1 juta barel per hari.
PT Pertamina (Persero) terus memperkuat barisan kemitraan internasional untuk mengamankan pasokan energi dalam negeri. Kali ini, perusahaan energi pelat merah tersebut menggandeng SLB (sebelumnya dikenal sebagai Schlumberger) untuk mengeksplorasi kerja sama teknis yang berfokus pada peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas). Penjajakan ini dilakukan sebagai respons atas tantangan penurunan produksi alamiah pada sejumlah lapangan migas di Indonesia yang sudah berusia matang.
Kerja sama ini mencakup pemanfaatan teknologi mutakhir untuk mengidentifikasi potensi cadangan yang selama ini sulit dijangkau atau belum terpetakan dengan optimal. Melalui keahlian SLB di bidang subsurface dan digitalisasi industri hulu, Pertamina berharap dapat mempercepat proses eksplorasi hingga tahap produksi. Integrasi data dan teknologi canggih diperkirakan bakal menjadi kunci utama dalam memangkas waktu operasional di lapangan.
Fokus Optimalisasi Sumur Tua dan Teknologi Subsurface
Salah satu poin krusial dalam kolaborasi ini adalah optimalisasi sumur-sumur tua yang dikelola oleh anak usaha Pertamina Hulu Energi (PHE). Mengingat sebagian besar profil lapangan migas di Indonesia sudah memasuki fase mature, diperlukan intervensi teknologi khusus seperti Enhanced Oil Recovery (EOR) maupun teknik stimulasi sumur lainnya. SLB, sebagai pemain global, memiliki rekam jejak panjang dalam menyediakan solusi teknis untuk memperpanjang usia produktif lapangan migas.
Manajemen Pertamina menekankan bahwa efisiensi bukan sekadar memotong biaya, melainkan tentang bagaimana setiap dolar yang diinvestasikan mampu menghasilkan volume produksi yang lebih tinggi. Dengan adopsi teknologi dari SLB, risiko kegagalan operasional pada kegiatan pengeboran diharapkan dapat diminimalisasi. Hal ini secara langsung akan berdampak pada performa finansial perusahaan dan kontribusi bagi penerimaan negara dari sektor hulu migas.
Dukung Target Produksi 1 Juta Barel per Hari
Kemitraan ini tidak berdiri sendiri, melainkan selaras dengan peta jalan pemerintah melalui SKK Migas untuk mencapai target produksi 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD) pada tahun 2030. Pertamina, yang memegang peran dominan dalam produksi migas nasional, memikul tanggung jawab besar untuk memastikan target tersebut tetap berada di jalurnya. Sinergi dengan mitra teknologi global menjadi pilihan logis untuk mengakselerasi pencapaian tersebut.
Selain aspek produksi, kolaborasi ini juga menyentuh sisi keberlanjutan nasional. Pertamina dan SLB berencana mengintegrasikan praktik operasional yang lebih ramah lingkungan guna menekan emisi karbon di area kerja migas. Inisiatif ini sejalan dengan komitmen perseroan dalam menjalankan transisi energi dan mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060, tanpa mengorbankan volume produksi yang dibutuhkan pasar domestik.
Langkah proaktif ini menunjukkan posisi Pertamina yang semakin terbuka terhadap aliansi strategis demi memperkuat kedaulatan energi. Ke depan, implementasi dari hasil penjajakan ini akan dipantau secara ketat untuk memastikan setiap teknologi yang diterapkan memberikan dampak nyata terhadap kenaikan lifting migas nasional. Keberhasilan kolaborasi ini bakal menjadi preseden bagi model kerja sama hulu migas di Indonesia pada masa mendatang.