MATARAM — Wakil Ketua DPW PRIMA NTB, Fikrin, menyebut penolakan terhadap proyek kereta gantung Rinjani menunjukkan adanya pertarungan serius dalam menentukan masa depan kawasan wisata alam di NTB. Menurutnya, di tengah gencarnya investasi pariwisata, keputusan ini menjadi tameng agar Gunung Rinjani tidak berubah menjadi komoditas wisata massal.
Fikrin menegaskan, proyek infrastruktur besar seperti kereta gantung kerap dipromosikan sebagai simbol modernisasi yang mampu mendongkrak kunjungan wisatawan. Namun, ia mempertanyakan siapa pihak yang paling diuntungkan.
"Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan keuntungan terbesar justru dinikmati investor dan pemilik modal eksternal. Masyarakat lokal hanya menjadi tenaga kerja upah rendah," ujar Fikrin dalam keterangan tertulisnya, Senin.
Ia menambahkan, masyarakat di sekitar Gunung Rinjani selama ini hidup dalam relasi kuat dengan kawasan pegunungan sebagai sumber air, ruang pertanian, dan sumber penghidupan tradisional. Jika pembangunan terlalu industrialistik, warga berisiko kehilangan kontrol atas ruang hidup mereka sendiri.
Dari sisi budaya, Fikrin menilai Gunung Rinjani bukan sekadar objek wisata bagi masyarakat Sasak. Kawasan tersebut memiliki nilai spiritual, historis, dan kosmologis yang menjadi bagian dari identitas budaya Lombok.
"Di kawasan ini hidup tradisi ritual adat dan sistem nilai yang memandang gunung sebagai ruang sakral. Kereta gantung berpotensi mengubah relasi manusia dengan gunung dari hubungan penghormatan menjadi hubungan konsumtif," jelasnya.
Fenomena ini, kata Fikrin, dalam perspektif budaya disebut komodifikasi—ketika nilai sakral diubah menjadi komoditas ekonomi. Penolakan terhadap proyek tersebut dinilai sebagai langkah nyata melindungi martabat budaya lokal dan hak masyarakat menjaga makna ruang hidup mereka.
Fikrin juga menyoroti dampak ekologis yang mengancam Taman Nasional Gunung Rinjani. Kawasan ini merupakan ekosistem pegunungan rentan yang berfungsi sebagai kawasan tangkapan air, penyangga iklim lokal, dan habitat flora-fauna endemik.
"Masalah pokoknya bukan hanya lintasan kabel atau stasiun kereta gantung, tetapi dampak turunan seperti industri perhotelan, kawasan komersial, jalan akses, dan lonjakan wisata massal," ujarnya.
Ia mengingatkan, Gunung Rinjani saat ini sudah menghadapi persoalan lingkungan serius: sampah pendakian, kebakaran hutan, erosi jalur, dan tekanan wisata berlebihan. Penolakan proyek kereta gantung dipandang sebagai langkah preventif untuk menjaga keberlanjutan ekologis jangka panjang Pulau Lombok.