TANJUNG — Dadan menyampaikan hal itu saat peluncuran nasional dapur SPPG 3T (tertinggal, terdepan, terluar) di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Selasa (12/5). Menurutnya, persoalan pemenuhan gizi masih menjadi tantangan besar, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah dengan jumlah anggota keluarga yang lebih banyak.
“Banyak anak-anak yang baru minum susu ketika ada program MBG. Oleh sebab itulah kemudian kita lakukan program ini,” ujar Dadan di hadapan para pejabat daerah setempat.
Dadan menekankan, pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan sangat menentukan perkembangan otak dan pertumbuhan anak. Ia menegaskan target program MBG bukan sekadar mengenyangkan perut, tetapi membentuk generasi yang sehat dan cerdas.
“Kita ingin mereka tumbuh sehat, cerdas, kuat, dan ceria. Karena 1.000 hari pertama kehidupan penting sekali pemenuhan gizinya supaya tidak stunting dan potensi kecerdasannya bisa muncul,” katanya.
BGN memastikan pelayanan gizi tetap diperluas hingga wilayah terpencil meski jumlah penerima manfaat tidak besar. Dadan menegaskan, berapa pun jumlahnya, dapur SPPG akan tetap didirikan di daerah yang sulit dijangkau.
“Berapa pun penerima manfaatnya di daerah terpencil, kita tetap akan dirikan satu SPPG,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dadan menyebut program MBG saat ini telah menjangkau 62,1 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia melalui 28.390 SPPG. Capaian itu diraih hanya dalam waktu satu tahun empat bulan.
Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar, menyatakan kehadiran dapur SPPG 3T bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, ini langkah nyata memperkuat pemenuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda.
Ia menilai kualitas sumber daya manusia tidak cukup dibangun hanya melalui pendidikan, tetapi juga membutuhkan asupan gizi yang memadai dan lingkungan yang sehat.
“Karena itu, kehadiran dapur SPPG 3T di Lombok Utara memiliki arti yang sangat penting. Program ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memastikan layanan gizi dapat menjangkau wilayah yang membutuhkan perhatian lebih,” ujar Najmul.
Najmul berharap dapur SPPG tidak hanya menjadi tempat penyediaan makan bergizi. Lebih dari itu, program ini harus menjadi gerakan bersama untuk membangun kesadaran gizi, memperkuat pangan lokal, dan memastikan anak-anak Lombok Utara tumbuh sehat.
“Jika anak-anak kita sehat, maka masa depan Lombok Utara juga akan lebih kuat,” tutupnya.
Pemerintah Daerah Lombok Utara menyatakan siap mendukung program-program yang berpihak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, termasuk memperluas akses gizi bagi anak-anak di pelosok desa.